UII FOR RADAR JOGJA
INSPIRATIF: Husna Nadiyya. Hafidzah cantik mahasiswi Fakultas Kedokteran UII ini mampu menghafal 30 juz Alquran selama enam tahun.

Sedikit perempuan di Indonesia yang mampu menghafal ayat suci Alquran sampai 30 juz. Dari segelintir orang-orang hebat itu, Husna Nadiyya, salah satunya. Mahasiswi Fakultas Kedokteran UII itu hafal Alquran sejak di bangku SMA.

YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman

DUA jempol pantas diacungkan bagi dara ayu kelahiran Kota Bogor, Jawa Barat ini. Di usianya yang masih relatif muda, Husna mampu memberi inspirasi bagi kalangan remaja seusianya. Gadis kelahiran 1995 itu tak hanya cerdas dalam akademis, tapi mau menjalankan tuntunan agama secara mutlak.

Ya, sebagai seorang muslimah, Husna telah hafal Alquran lengkap 30 juz. Kemampuannya itu pula yang mengantarkan Husna hingga bisa diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) pada 2013.

Baginya, menghafal Alquran merupakan dedikasi yang menjadi lifetime passion. Husna meyakini, ibadah yang dijalaninya selama ini akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupannya, baik dunia maupun akhirat.

“Saya sudah mulai menghafal Alquran sejak kecil. Namun, usaha serius untuk itu baru benar-benar saya mulai di bangku SMP,” ungkap alumnus Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Di pondok pesantren itulah bakat dan minat Husna menghafal Alquran makin terasah. Orang tuanya sengaja mengirim Husna ke pondok pesantren agar dia semakin tekun menghafalkan Alquran. Sembari menimba ilmu tahfidz, Husna menempuh pendidikan formal selama enam tahun di sekolah setempat. Hebatnya, selama enam tahun pula Husna mampu menyelesaikan hafalan 30 juz Alquran.

“Orang tua memang selalu memotivasi agar kami mampu menjadi para penghafal Alquran. Sebab ahli Qur’an itu kan dalam hadist Rasulullah disebut ahlullah (keluarga Allah),” tuturnya.

Selain muncul dari benak sendiri, Husna termotivasi oleh sang kakak pertama, yang juga penghafal Alquran 30 juz. Tak ada hari yang dilaluinya tanpa menghafal. Ada jadwal khusus di pondok pesantren untuk menyetorkan hafalan. Yakni, setiap selesai Subuh dan Isya. Setiap tahun para santri ditarget hafal minimal satu juz.

“Tekun dan sabar. Itulah jurus jitu yang menjadi kunci sukses Husna merampungkan hafalan. Jadwal harian harus tertata rapi dengan alokasi waktu yang rinci untuk tiap kegiatan,” ujar gadis empat bersaudara itu.

Selain menghafal, dunia medis menjadi ketertarikan Husna dalam akademis sejak di bangku SMA. Nah, dari situlah, usai lulus sekolah formal, Husna berniat melanjutkan pendidikan kedokteran.

Beberapa waktu sebelum kelulusan SMA, Husna mendengar kabar bahwa UII membuka jalur pendaftaran bagi para penghafal Alquran. Gayung pun bersambut. Tentu saja kabar gembira itu tak disia-siakannya. Segera Husna mendaftar ke Fakultas Kedokteran. Setelah melalui beberapa tahapan tes seleksi, Husna akhirnya diterima. Kini, dia duduk di semester V.

“Tentu saya sangat bersyukur. Apalagi UII juga memberi beasiswa bagi para hafidz dan hafidzah. Beban orang tua jadi lebih ringan,” kenangnya.

Fakultas Kedokteran UII memang termasuk kampus yang banyak menampung mahasiswa penghafal Alquran. Tiap tahun, jumlah mereka semakin bertambah. Dari semula hanya ada seorang hafidz pada 2013, setahun kemudian bertambah menjadi empat orang. Pada 2015 tambah lagi lima mahasiswa hafidz. (ila)

Beasiswa untuk Hafidz dan Hafidzah