Setiaky/Radar Jogja

Gagal Jadi Pemain, Banting Setir Jadi Wasit

Si kulit bundar memang merupakan bagian hidup dari sosok Armando Pribadi. Hampir sebagaian besar perjalanan hidupnya selalu berdekatan dengan bola. Mulai dari sepak bola hingga futsal.

Pada kenyataannya, Armando sendiri lebih populer dengan profesi pengadil di lapangan hijau. Padahal, pria kelahiran Situbondo 1971 silam ini memiliki karir panjang sebagai seorang pemain profesional.

Tercatat klub-klub seperti Bentoel Galatama, PSIM Jogja dan Pra PON DIJ pernah ia perkuat. Bentoel Galatama merupakan klub pertama saat ia merintis karir sebagai pemain profesional.

Dua tahun bersama Bentoel Galatama, Armando hijrah ke PSIM Jogja pada 1992. Selama lima tahun ia membela Laskar Mataram. Namun sayang, karirnya yang tengah berada di puncak usia pesepakbola harus kandas akibat cidera yang membekap dirinya.

“Di usia emas pemain sepak bola ketika itu, saya mengalami cidera lutut parah. Karir sebagai pemain sepak bola memang sudah berakhir,” jelas Armando kepada Radar Jogja.
Keinginan Armando untuk tetap menggeluti dunia sepak bola memutuskan dirinya untuk banting stir menjadi pelatih. Hanya saja, keinginan itu terkendala karena bertepatan ia menutup karir di sepak bola tidak ada kursus kepelatihan.

Hingga suatu saat ada seseorang yang mendorongnya untuk menjadi wasit sepak bola. Apalagi ketika itu wasit nasional yang berlatar belakang dari pemain sepak bola sangat jarang.

“Ketika itu banyak senior yang mendorong. Dengan latar belakang dari pemain, saya bisa memahami karakter dan emosional pemain. Ini menjadi keuntungan,” jelasnnya.

Tahapan karier Armando sebagai wasit dimulai saat menjalani kursus wasit C3 pada tahun 1999. Namun di tengah menjalani kursus, ia sempat mengalami gundah dan beralih menjalani kursus pelatih berlisensi D pada tahun 2000.

Berkat dorongan dari para senior inilah akhirnya Armando kembali pada jalur kursus wasit. Kegigihannya akhirnya berbuah pada raihan berlisensi C2 Nasional (2001) sampai C1 Nasional (2003).

“Ketika berlisensi C3 saya harus memimpin pertandingan tarkam. Ini yang membuat saya sempat putus asa,” jelas pria yang masih menjabat sebagai Ketua Biro Wasit Jogja ini.

Setelah mengantongi lisensi nasional, tercatat selama kurun waktu empat tahun (2007-2011) Armando aktif sebagai wasit di Indonesian Super League (ISL). Pada masa itulah dia menyandang status sebagai satu-satunya wasit DIJ yang berkiprah di kompetisi sepak bola kasta tertinggi negeri ini.

Dia masih ingat betul laga pertama yang ia pimpin dilaga ISL yakni Deltras Sidoarjo kontra Persiwa Wamena di 2008. Diakui olehnya, cukup gugup memimpin pertandingan.

Seiring berjalannya waktu, Armando mulai dipercaya untuk memimpin laga-laga krusial. Bahkan ketika itu prestasinya mulai sejajar dengan para senior yang akan pensiun seperti Jimmy Napitupulu dan Purwanto. “Bahkan Pak Jimy sempat cemburu sama saya karena sering memimpin laga krusial dan masuk TV he..he..he,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi wasit ISL dengan iklim sepak bola yang kala itu masih sering terjadi bentrok suporter membuat dirinya was-was. Apalagi ketika harus memimpin laga di Papua.

“Di awal-awal sempat ketakutan. Takut bila suporter tidak menerima dengan hasil dan menyalahkan wasit. Wasit kan lebih gampang menjadi kambing hitam bila ada salah satu tim kalah,” ujarnya.

Namun kekhawatiran akan terjadinya protes pemain maupun suporter saat ia mimimpin, tidak terbukti. Pengalaman dirinya sebagai pemain memudahkan dirinya berkomunikasi dengan para pemain mengenai hukuman yang diberikan.

Satu hal yang terpenting, sebutnya, wasit sangat dilarang menyentuh kepada hal-hal negatif seperti mengonsumsi miras dan gemar dengan dunia malam. “Hal ini sangat mempengaruhi saat berada di lapangan,” jelasnya. (bhn/laz)

Idolakan Collina, Lebih Nyaman Jadi Wasit

Sama halnya dengan pemain bola yang memiliki idola masing-masing. Ternyata selama menjadi pengadil lapangan hijau, Armando Pribadi pun memiliki sosok wasit idola. Dia adalah mantan wasit Seri A Italy yang juga wasit internasional Pierluigi Collina. Wasit gundul asal Italia ini terkenal dengan ketegasannya.

Armando menyebut, Collina merupakan wasit memiliki totalitas tinggi. Ketegasan di lapangan hasil dari sebuah kesiapan yang cukup matang sebelum pertandingan.

“Dia selalu mencatat track record pemain-pemain yang akan dipimpin. Ini akan mempermudah wasit dalam mengambil keputusan karena sudah mengetahui karakter masing-masing pemain,” jelasnya. Hal inilah yang ia coba sedikit terapkan selama menjadi pengadil di ISL.

Di sisi lain, seiring berjalannya waktu Armando merasakan kenyamanan menjadi wasit, ketimbang pemain sepak bola. Alasannya, ia lebih bisa dekat dengan keluarga dan tidak berlama-lama meninggalkannya.

Bila masih menjadi pemain profesional, waktunya sering tersita untuk menjalani kompetisi. Apalagi saat menghadapi tur luar kota. Sedangkan menjadi wasit, kebersamaan dengan keluarga lebih banyak. “Kita tidak pernah merasa jauh dari keluarga, ini yang membuat nyaman,” jelasnya. (bhn/laz)

Beralih Menekuni Futsal

Hampir selama dua decade, Armando menekuni dunia sepak bola. Mulai dari pemain hingga wasit profesional. Di mana ia mengaku apa yang diinginkan telah ia dapatkan. Tidak hanya materi tentunya, kepuasan bisa menularkan ilmu kepada para juniornya pun telah terlaksana.

Hingga pada suatu titik, di mana ia harus mencari jalan lain dan tidak sepenuhnya bergelut dengan dunia sepak bola. “Ketika itu di 2012, setelah pulang dari ibadah haji saya merasa sudah tidak nyaman lagi disepak bola. Maka saya putuskan untuk tidak sepenuhnya lagi berkecimpung di sana,” jelasnya.

Mantan playmaker PSIM Jogja ini menuturkan, sejak periode 2007 dirinya sudah mulai menekuni sebagai pengadil lapangan futsal. Dan, baru benar-benar total di tahun 2012.

“Banyak yang menyangkan saya ketika itu. Mereka beranggapan menjadi wasit futsal bayarannya kecil dibanding sepak bola. Di sepak bola bisa Rp 5 juta sekali pertandingan, kalau di futsal hanya Rp 300 ribu – Rp 500 ribu per pertandingan,” jelasnya.

Keputusan Armando untuk berganti ‘baju’ memang sudah menjadi tekad yang bulat. Apalagi, olahraga futsal masih terbilang baru, sehingga lebih mudah untuk dikembangkan, terutama di Jogjakarta. “Di sepak bola sudah sangat sulit. Apalagi dengan segala persoalan yang kompleks,” jelasnya.

Hingga pada 2014, Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia (FFI) Harry Tanoesoedibjo mempercayainya untuk menjadi Ketua Asosasi Futsal Provinsi (AFP) DIJ hingga saat ini. Mendapat amanah itu, ia bertekad mengembangan futsal sebagai hiburan yang bisa diminati masyarakat, Jogjakarta khususnya. Paling tidak bisa sejajar dengan sepak bola.

Langkah yang dilakukan yakni dengan melakukan standarisasi infrastruktur lapangan futsal. Dari sebelumnya 15-25 meter menjadi 40-20 meter dan berlaskan vinyl dan parquette. “Harapnnya tidak ada lagi ruput sintetis. Sebab rumput ini peruntukannya untuk soccer indoor,” jelasnya.

Dia menyebut pengembangan futsal di Jogjakarta sendiri cukup potensial. Ini terbukti dengan dipercayanya Jogja untuk menggelar event-event futsal berskala nasional. Bahkkan tahun ini, final Futsal Super League akan digelar di DIJ.

Bahkan manajer 4R Futsal dan Jogokaryan Futsal ini menyebut Jogjakarta hampir saja menjadi tuan rumah kompetisi turnamen futsall tingkat ASEAN. Namun saying, batal akibat sanksi FIFA terhadap PSSI tahun lalu.

“Saya akan terus berkreasi di olahraga ini secara profesional. Dimulai dari pengembangan infrastruktur sampai dengan SDM. Mudah-mudahan hasilnya akan terasa di tahun yang akan datang,” jelasnya. (bhn/laz)