SUBUR: Evilia, cucu Martono ikut merawat sawah minimalis di halaman depan rumah pensiunan guru itu di Dusun Gunungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro,Bantul.

Pilih Bibit Padi Gogo, Hasil Panen Dikonsumsi Sendiri

Bersawah di halaman rumah. Itulah yang dilakukan Martono. Meski tak lazim, pensiunan guru tersebut memilih tanaman padi untuk menghiasi kebun mungilnya.

ZAKKI Mubarok, Bantul
Martono memang kreatif. Usai pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS), pria 65 tahun itu tak mau berdiam diri menghabiskan waktu di dalam rumah. Dia ingin tetap beraktivitas. Bercocok tanam padi menjadi pilihannya. Selain hobi, bersawah membuat tubuhnya tetap sehat dan berkeringat setiap hari. Namun, ada yang berbeda dengan hobi Martono ini. Jangan dibayangkan dia menanam benih padi di hamparan sawah yang luas. Sebaliknya, dia menanam padi di lahan sempit. Yakni, di halaman rumahnya, yang hanya berukuran luas 5 x 7 meter persegi. Sekilas, apa yang dilakukan Martono persis dalam cerita kartun lucu karya Benny dan Mice, yang dimuat salah satu media massa nasional.

Martono juga tak mau pekarangan belakang rumahnya kosong. Padi juga ditanam di area seluas 200 meter persegi tersebut.

Warga Dusun Gunungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro,Bantul itu memang menyukai pemandangan alam yang subur, hijau, dan asri. Baginya, hal itu bisa dimulai dari rumah sendiri. “Sudah dua kali saya tanami padi,” kata Martono yang ditemani Evilia, cucu perempuannya, saat Radar Jogja bertandang ke rumahnya kemarin (21/2).

Bukan kali ini saja Martono menggeluti hobi bersawah di pekarangan rumah. Sejak aktif mengajar di salah satu sekolah negeri di Lampung, Martono telah mempraktikkan hobinya itu.

Martono memilih padi bukan tanpa alasan. Keuntungan ekonomi menjadi salah satu pertimbangannya memilih tanaman penghasil makanan pokok masyarakat Indonesia itu. Kebun rumah memang lebih lazim ditanami bunga atau tanaman hias. Bagi Martono, bunga hanya indah dipandang, tapi tak terlalu membawa keuntungan ekonomi. Dari hasil panen pula Martono dan sekeluarga mencukupi bahan makanan pokok sehari-hari.

Selain itu, menanam padi lebih banyak membutuhkan tenaga dan kesabaran dalam perawatannya. “Itung-itung untuk mengisi waktu pensiun,” ujarnya.

Meski hasil panen musim tanam pertama kurang memuaskan, martono tak patah arang. Bahkan, dia optimistis hasil panen ke dua hasilnya lebih maksimal dan bisa untuk mencukupi kebutuhan makan selama setahun.

Martono memilih bibit Situbagendit atau biasa dikenal dengan sebutan padi gogo. Tak ada resep khusus bagi Martono untuk lahan padi di pekarangan rumahnya. Selain pengairan yang cukup, pupuk dan bibit harus diperhatikan. Belum lagi ancaman hama yang bisa menggagalkan panen.. Dia meyakini, padi bisa tumbuh subur dimanapun. Bahkan, menurutnya, bercocok tanaman padi di halaman rumah justru lebih simpel dibanding di sawah. Kuncinya, tanah harus subur. Itu disiasati dengan memperbanyak pupuk kandang.

“Tak perlu dibajak dulu. Lahan langsung bisa ditanami setelah diberi pupuk kandang,” tutur Martono.

Martono juga tak perlu repot memindah benih padi yang telah disemai ke lubang baru. Satu lubang penyemaian sekaligus menjadi tempat tumbuh batang padi. Setiap lubang diisi tiga hingga empat benih.

Perawatannya saja yang sama dengan padi di sawah. Tanaman harus disemprot pupuk organik pada masa tanam usia 20 hari. Agar kesuburan tanaman tetap terjaga. Tak lupa, obat anti hama disemprotkan secara berkala.

Usaha “sampingan” Martono tersebut makin ringan karena tak dikerjakan sendirian. Dia daibantu Sukini, istrinya, yang juga pensiunan guru. Evilia yang kini duduk di bangku kelas VII SMP turut membantunya.(yog/ong)