SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
 
GUNUNGKIDUL – Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Gunungkidul sengaja menyelenggarakan peringatan Hari Peduli Sampah (HPS) 2016 tingkat DIJ di kawasan Pantai Sepanjang, Tanjungsari, Gunungkidul. Ada alasan khusus pemilihan di lokasi tersebut. Pasalnya, Indonesia merupakan negara peringkat kedua di dunia yang membuang sampah ke laut.

“Maka peringatan Hari Peduli Sampah ini kami pusatkan di kawasan pantai, agar lebih peduli terhadap laut,” ungkap Kepala KLH Gunungkidul Irawan Jatmiko, kemarin (21/2).

Menyadari itu, Irawan mengatakan, HPS 2016 ini hendaknya dimaknai dengan langkah nyata. Dia mengajak masyarakat, khususnya para wisatawan sadar dan peduli mengelola sampah di kawasan pantai. Apalagi Gunungkidul dikenal mempunyai potensi keindahan pantai selatan dengan hamparan pasir putih yang menawan.

“Ini demi menjaga keberlanjutan kebersihan, kelestarian, dan keindahan pantai,” tegasnya.

Sebelum acara, pagi hari sekitar pukul 06.30 dilakukan aksi pungut sampaj. Aksi ini dilakukan oleh jajaran KLH Gunungkidul, pedagang di Pantai Sepanjang, kelompok sadar wisata (pokdarwis), sekolah peduli lingkungan, dan Saka Kalpataru.

Irawan mengatakan, HPS 2016 menjadi momentum penting bagi penyadaran masyarakat betapa pentingnya pengelolaan sampah secara baik dan benar. Pengelolaan itu, lanjut dia, dengan mengedepankan sistem 3R. Yakni reduce (mengurangi potensi sampah), reuse (menggunakan kembali kemasan plastik, kaca dan lainnya), dan recycle atau dengan cara daur ulang.

“Sebetulnya kegiatan 3R sudah cukup dikenal. Hanya implementasi di lapangan yang belum konsisten,” ungkapnya
Bupati Gunungkidul Badingah menyadari masalah sampah dan pengelolaan merupakan persoalan kompleks. Pola pengelolaan sampah selama ini belum dijalankan secara baik. Rumah tangga selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar produksi sampah.

“Masih sering kita jumpai sampah dibuang begitu saja di kawasan terbuka maupun ke sungai. Ini tentu merusak ekosistem alam,” kata bupati yang baru empat hari lalu, 17 Februari 2015, dilantik kembali untuk periode kedua.

Kondisi tersebut, lanjut Badingah, juga terjadi di kawasan pantai. Menurut dia, pantai belum terbebas dari sampah sebagai dampak dari aktivitas pariwisata. “Untuk kawasan wisata, kami minta kepada instansi terkait memonitoring pengelolaan sampah,” kata Badingah.

Oleh karena itu, Badingah mendukung penuh terus pengembangan pengelolaan sampah dengan sistem 3R tersebut. Dari pengamatannya, di Kota Wonosari sudah banyak kelompok-kelompok masyarakat mengelola sampah dengan pola 3R t. Dengan pengelolaan yang baik, maka sampah akan menjadi sumber daya ekonomi yang bernilai tinggi.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengingatkan, dari hasil survei jumlah timbunan sampah di DIJ pada 2015 mencapai 0,44 kg per orang per hari. Dari jumlah itu, jenis sampah organik sebesar 62 persen, nonorganik 28 persen, dan sampah residu yang benar-benar tak dapat dikelola sebanyak 10 persen.

Dari data tersebut, peran kelompok masyarakat pengelola sampah mandiri melalui forum jejaring pengelola sampah mandiri (JPSM) bersama pemerintah daerah terbukti berhasil menyosialisasikan pengelolaan sampah lewat sistem 3R. “Termasuk pengelolaan melalui bank sampah,” ucap gubernur lewat sambutan yang dibacakan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ Joko Wuryantoro.

Namun demikian, lebih dari 40 persen sampah di lingkungan masyarakat belum terkelola secara baik. Masih banyak masyarakat membuang sampah sembarangan. Lalu, belum semua rumah tangga dan tempat-tempat umum memiliki tempat sampah terpilah. Juga belum semua sarana angkutan dan kendaraan dilengkapi tempat sampah. (gun/kus/ila/ong)