BANTUL – Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami puluhan petani di Dusun Greges, Donotirto, Kretek, Bantul. Belasan hektare lahan sawah mengalami gagal panen. Tanaman padi puso akibat terserang hama wereng coklat. Ironisnya, petani tak mampu melawan serangan hama gara-gara insektisida (racun serangga) bantuan pemerintah kadaluwarsa.

Yudi Harjono, salah satu petani mengatakan, wereng coklat mulai menyerang batang tanaman padi sekitar dua minggu lalu. Saat tanaman padi mulai berbunga.

Hal itu segera dilaporkan kepada petugas penyuluh lapangan (PPL). PPL menindaklanjutinya dengan memberikan bantuan berupa insektisida. Alih-alih terkendali, serangan wereng malah semakin mengganas. Setelah dicek, ternyata insektisida merek Tsubame dan Buprosida yang diberikan PPL telah kadaluwarsa.

“Ada keterangan baik digunakan sebelum tahun 2011 di kemasan botol,” bebernya kemarin (21/2).

Para petani lantas berinisiatif membeli insektisida secara swadaya. Buktinya, serangan wereng lambat laun terkendali. Tapi, langkah itu sudah terlambat. Sedikitnya 60 persen lahan dari total 20 hektare sawah puso. Akibatnya, setiap petani rata-rata mengalami krugian antara Rp 1,5 juta – Rp 2 juta. “Tanaman akhirnya kami tebang sekalian,” keluhnya.

Dukuh Greges Sungatijan mendesak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Bantul bertindak responsif. Agar peristiwa yang menimpa petani Greges tak terulang di daerah lain. “Jangan sembarangan memberi bantuan insektisida. Kasus ini membuat petani rugi,” tegasnya.

Serangan aman wereng coklat juga dialami petani di Dusun Baros, Tirtohargo. Sekitar lima hektare tanaman padi dipastikan gagal panen. Rata-rata usia tanaman menginjak 60 hari.

“Sepuluh hektare lain nyaris gagal panen,” keluh Kristiantoro, salah satu anggota kelompok tani setempat.

Terkait hebohnya insektisida kadaluwarsa Kepala Dispertanhut Bantul Partogi Dame Pakpahan belum dapat dikonfirmasi. Pun demikian tentang merajalelanya serangan hama wereng coklat yang menyerang lahan pertanian. (zam/yog)