JOGJA – Bagi masyarakat penerima beras sejahtera (rastra), tidak per-lu bingung jika beras yang diterimanya tidak layak. Sebab, Pemkot Jogja dan Badan Urusan Logistik (Bulog) menyatakan mau menerima beras pengembalian yang tak layak. “Kalau beras tidak layak, silakan langsung dikembali-kan,” tandas Asisten Sekretaris Kota (Assek-kot) I Ahmad Fadli kemarin (22/2).Ia menjelaskan, Bulog dengan pemkot sudah bersepakat untuk menerima pengem-balian
Dengan catatan, beras tersebut tak layak. Baik dari sisi kualitas seperti warna beras dan ada hewannya.Kepala Divisi Regional Bulog DIJ Sugit Tedjo Mulyono me-ngatakan, distribusi pertama rastra 2016 dilakukan di Kota Jogja karena daerah ini me-rupakan daerah paling tertib dalam pembayarannya. “Jogja juga paling baik dalam pelaksanaan rastra. Dalam distribusi pertama juga terbaik bersama Jawa Barat,” jelasnya.

Namun demikian, kata Sugit, selama ini masih banyak ma-syarakat yang belum paham dengan kondisi beras dari Bulog. Sehingga tak sedikit yang mengeluhkan kualitasnya. Padahal, beras Bulog sendiri tidak mengenal jenis beras selain standar kualitas. “Beras Bulog itu kualitas me-dium. Jadi beras utuh 78 persen, broken 20 persen dan dua persen menir. Dibandingkan dengan beras yang ada di pasaran memang kalah menarik, karena beras Bulog sebenarnya tidak untuk langsung dikonsumsi,” katanya.

Ia menjelaskan, dibanding beras di pasaran, beras Bulog tampil lebih kusam karena kulit ari beras tidak semuanya terkelupas saat digiling. Ke mudian beras Bulog juga keras karena kadar airnya tinggi. Jika mau jujur soal kandungan gizi, beras yang lebih kusam justru yang lebih bergizi.Ia juga memastikan per sediaan beras Bulog aman hingga empat bulan ke depan. Saat ini Bulog memiliki persediaan 19.000 ton beras yang didapat dari mitra di masyarakat. Sedangkan target pengadaan beras untuk 2016 sebanyak 62.500 ton.

Total warga Kota Jogja pe nerima beras murah itu untuk tahun ini ada 16.031 kepala keluarga (KK). Tiap KK mendapatkan 15 kilogram beras per bulan selama setahun. Untuk 15 kilogram beras, warga hanya dikenakan biaya Rp 24.000. Jika dihitung per kilogram Rp 1.600.Sugit mengklaim kualitas beras Bulog baik, meski berkategori beras kelas medium. Menurunya, beras medium tidak bisa di-bandingkan dengan beras kelas premium yang dibeli masyarakat di pasaran. “Beras di kami kualitas medium dengan tingkat broken (patah-patah) 20 persen dan tingkat menir dua persen,” ungkap Sugit. (eri/laz/ong)