Total Mengabdi demi Kesejahteraan Masyarakat

Kemarin (22/2) tepat 55 tahun usia Bupati Sleman Sri Purnomo. Segudang harapan tertanam dalam benaknya untuk membangun Sleman. Dengan satu tujuan, mewujudkan masyarakat lebih sejehtera.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
BEBERAPA kado berupa ma-kanan tradisional masih terbungkus rapi di meja etalase ruangan bu-pati. Para tamu hilir mudik untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Sri Purnomo. Ya, kemarin memang hari istimewa bagi orang nomor satu di Sleman itu. Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1961.

Meniti karir sebagai pendidik di salah satu madrasah tsanawiyah sejak 1984-2005. Dari situlah karir politiknya mulai bersinar. Perjalanan panjang dilaluinya hingga bisa seperti sekarang. Butuh perjuangan yang tak ringan. Sepuluh tahun mengabdi sebagai kepala daerah, seolah belum cukup. Sri Purnomo masih ingin terus mengabdi untuk masyarakat. Baginya, jalan masih panjang untuk berjuang mewujudkan cita-cita menyejahterakan masyarakat Sleman. “Semoga barokah. Mudah- mudahan amal ibadah saya dan keluarga diterima Allah SWT,” ucap Sri Purnomo memaknai hari jadinya yang ke-55.

Meski tak sedikit curahan waktu dan pengorbanannya, Sri tetap selalu berharap apa yang telah dilakukannya bisa diterima masyarakat. Bagi Sri Purnomo, bertambahnya usia justru menjadi pengingat untuk evaluasi diri. Agar setiap langkah ke depan senantiasa membawa berkah, bukan saja untuk diri sendiri. Tapi juga untuk orang lain. “Yang jelas, saya ingin mem-berikan dampak positif bagi ma-syarakat,” ujarnya, sambil se sekali meneken beberapa dokumen administrasi.Banyak asam garam dienyamnya selama memim-pin kabupaten berslogan “Sembada” ini
Lima tahun menjadi wakil bupati (periode 2005-2010) dan lima tahun lagi menjabat bupati (2010-2015), lebih dari cukup untuk mengetahui seluk beluk Sleman. Pengalaman itu pula yang men-jadi modal bagi Sri Purnomo bersama wakilnya, Sri Muslimatun, menakhodai Sleman. “Kami ingin totalitas dalam mengabdi kepada masyarakat,” tegas figur publik yang berdomisili di Dusun Jaban, Tridadi, Sleman, ini.

Melayani masyarakat adalah tugas nomor satu alumnus Magister Ekonomi Syariah UII itu. Ke depan, Sri ingin melihat setiap lapisan masyarakat bisa dilayani secara adil di lingkungan pemerintahan. Pelayanan harus lebih bagus, profesional, tepat, dan tidak berbelit-belit. “Saya ingin mendengarkan masukan masyarakat. Apa yang menjadi hambatan, kabari saya. Nanti cari solusi bersama yang terbaik,” tutur ayah Aviandi Okta Maulana, Nudia Ramanda Pangesti, dan Raudi Akmal. Semangat mewujudkan Sleman sebagai kawasan “Smart Regency” tak pernah lepas dari pemikiran-nya.

Semula, Sri Purnomoi bercita-cita mewujudkan Sleman sebagai wilayah “Smart City”. Seiring berjalannya waktu, Sri tak ingin hanya wilayah perkotaan saja yang memiliki label “smart”. Dia ingin konsep smart diterap-kan merata untuk 17 kecamatan se-Sleman.Itu menjadi cita-cita besarnya selama lima tahun ke depan. Suami Kustini ini meyakini, jika cita-cita itu terkabul, bukan mustahil masyarakat Sleman lebih sejahtera seperti yang di-idam-idamkannya. (laz/ong)