GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DUA KARAKTER: Dua penjual jasa objek foto berkostum ala karakter Si Buta dari Gua Hantu dan superhero Iron Man berbincang di kawasan Titik Nol Kilometer, Jogja, kemarin (22/2). Foto kanan, tokoh Transformers sedang istirahat.

JOGJA – Rencana Pemprov DIJ yang akan menata sumbu filosofi Jogjakarta mulai Keraton, Alun-Alun Utara, Titik Nol Kilometer, Malioboro, dan berakhir di Tugu harus dievaluasi. Sebab, program yang digarap bekerjasama dengan Pemkot Jogja itu ternyata banyak di keluhkan masyarakat.

Di antaranya adalah warga di Kauman, Ngupasan, Gondomanan. Mereka mengeluhkan tidak adanya dampak apa pun dari penataan ter-sebut. Baik dari aspek ekonomi maupun bidang lainnya. “Kami hanya dapat sosialisasi dan sampai saat ini tak ada pelibatan warga,” tutur Ketua RW 11 Kauman, Ngu-pasan, Rahmanto kemarin (22/2)
Menurutnya, usulan warga untuk bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari penataan tersebut tidak pernah digubris. Informasi yang di terima, justru pelaku ekonomi di kawasan tersebut lebih banyak masyarakat luar Kota Jogja. Bahkan pe ngurus RT/RW tidak diperhatikan. Rahmanto mengaku pihaknya sudah berkali-kali minta satu kios untuk dikelola RW dan hasilnya kas RW. Sehingga RW tidak kesulitan setiap akan melaksanakan kegiatan ke-masyarakatan. Namun, per-mintaan itu tidak ditanggapi. “Kami sudah minta melalui camat. Bahkan menyampaikan langsung ke wali kota tapi tidak ada tanggapan,” ujarnya.

Di sisi lain, Rahmanto berujar, justru pemerintah merangkul salah satu organisasi ke-masyarakatan dengan mem-berikan wewenang dalam mengelola parkir, moda trans-formasi di kawasan Altar. Pada-hal, selama ini yang paling banyak berhubungan dalam sosial ke-masyarakatan adalah RT dan RW.Selain warga, paguyuban pelaku ekonomi pariwisata (Peta) Altar juga masih menolak penggusuran yang dilakukan pemerintah. Pengurus Peta Al-tar, Ardiyanto mengatakan kios yang disediakan pemerintah hanya ada 210.

Sementara pedakang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di Altar ada 500 lebih. Camat Gondomanan Agus Arif Nugroho menyatakan, pihaknya telah mengakomodasi semua keluhan warga. Setiap ada masukan, langsung disampaikan ke Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) sebagai pemegang kewenangan penataan sumbu filosofis itu. Tapi, Agus membantah banyak orang luar Gondomanan yang mengelola parkir dan transpor-tasi Altar pascapenataan. “Hanya sedikit orang luar, kebanyakan orang Kauman dan sekitarnya,” kata dia melalui sambungan telepon.

Belum semua warga sekitar Altar yang mendapatkan dampak ekonomi dari penataan Altar. Karena proses penataan masih berlangsung. Agus mengatakan ada lima RW yang masuk dalam wilayah Altar. Tiga RW di wila-yahnya, dan dua RW masuk wilayah Kecamatan Keraton. Selain itu, UPT Malioboro pun tengah mengerjakaan kegiatan yang lain. Antara lain, pengadaan pagar barikade, toilet portable, foto booth, radio komunitas, seragam bregodo, serta panggung mobile. (eri/din/ong)