Apa yang kamu lakukan ketika malam minggu tiba? Jalan bareng pacar, keluarga, atau menghabiskan waktu untuk menjalankan hobi serta kulineran. Hari sabtu identik dengan hari santai untuk melepas penat setelah lima hari sibuk dengan berbagai aktivitas di sekolah ataudunia kerja.

NAMUN tidak untuk sekumpulan maha-siswa Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang justru mulai sibuk ketika hari Sabtu tiba. Perkumpulan ini bernama Tepus Story. Berisi anggota tetap berjumlah 20 orang, perkumpulan yang terbentuk Februari 2015 itu udah ngumpul sejak pukul 09.00 dan langsung berangkat ke Kecamatan Tepus, Gunungkidul, untuk mengajar puluhan anak SD di Dusun Wunud dan Pule. “Perkumpulan ini terbentuk karena bebe-rapa orang merasa terpanggil untuk kembali setelah melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) di Tepus. Karena tinggal di sana selama satu bulan dan bersinggungan lang-sung dengan anak-anak SD, kami sadar betapa tertinggalnya mereka ketimbang siswa SD di Jogjakarta,” jelas Tutut Indargo, Founder Tepus Story.

Menurut mahasiswa S2 Fakultas Hukum UAJY tersebut, fakta itu merupakan sebuah ironi. Apalagi karena citra Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai provinsi yang kerap disapa sebagai Kota Pelajar. Namun salah satu kabupatennya memiliki kekurangan di sisi pendidikan.Dan itu dialami oleh siswa Sekolah Dasar. “Pendidikan sekolah dasar itu penting karena menjadi fondasi pendidikan anak. Mereka belajar pertambahan, perkalian, pembagian, membaca, dan pendidikan dasar lain di SD. Sayang jika mereka terting-gal atau tidak mendapatkan pendidikan itu secara optimal,” tambahnya.

Total terdapat 60 anak yang mengikuti pendidikan non-formal yang diadakan Tepus Story. Di Dusun Pule, setiap Sabtu mulai pukul 12.00-13.30 setidaknya ada 30 hingga 40 anak yang bergabung untuk be-lajar. Sedangkan pada pukul 15.00 hingga 16.30 terdapat sekitar 20 anak yang belajar di Dusun Wunud.Pola pengajaran yang ditetapkan pun personal. Yakni setiap satu orang anggota Tepus Story harus mengajar satu sampai dua anak saja, tidak boleh lebih. Sebab jika tidak menggunakan pola ini maka pengajaran tidak akan efektif apalagi untuk memperbaiki atau mengejar ketertinggalan pengetahuan anak SD di tempat itu. “Di sana itu problemnya adalah kekurang-an guru, selain itu jika guru ada, ya mereka cuek, mengajar tinggal mengajar saja. Seperti sekadar menjalankan formalitas. Maka anak jadi ketinggalan pelajaran, bayangkan kelas 5 SD saja belum bisa melakukan pertam-bahan bilangan puluhan bahkan perkalian, miris!” kata Katarina Tathya, koordinator Tepus Story.

Balai Desa Pule Gundes 1 dan Wunud menjadi tempat Tepus Story melakukan kegiatan mereka setiap Sabtu. Tidak hanya mengajar, perkumpulan ini juga sering memberi bantuan untuk kebutuhan belajar anak. Seperti membelikan buku, alat tulis, hingga tas sekolah. “Biaya kami cari dengan menjual baju bekas. Selama ini kami juga masih menggunakan biaya pribadi dari uang saku masing-masing untuk membiayai kegiatan ini. Sedih kalau melihat anak tasnya rusak dan orang tua tidak bisa membelikan, maka kami bantu dengan uang hasil menjual baju itu,” cerita Tutut.Saat ini Tepus Story sedang merancang untuk mendirikan perpustakaan mini di Balai Desa Pule Gundes 1. Kebetulan terdapat komunitas dari Jakarta yang mengajak mere-ka bekerja sama mendirikan perpustakaan. “Setiap mengajar kami juga membawa tim dokumentasi untuk bergerak di sosial media. Ternyata ada yang melihat aksi kami di internet dan tertarik membantu. Semoga program perpustakaan mini dapat tereali-sasi,” cerita Tutut.

Menurut Tutut dan Tathya kewajiban mem-perbaiki bangsa bukan sekadar berada di tangan pemerintah. Namun seluruh elemen masyarakat, tak terkecuali mahasiswa. “Kalau menunggu pemerintah, mau sampai kapan? Jika kamu mengetahui ada masalah di suatu tempat, turun tangan dulu, buat aksi, jangan sekadar protes atau menunggu. Indonesia butuh kamu, butuh kita para pemuda,” ajak dan imbau Tutut untuk anak muda yang lain.Kalau kamu tertarik dengan aksi mereka, kamu bisa bergabung atau kepoin aja sosial medianya di instagram Tepusstory dan fan-page Facebook Tepus Story. Yuk ikut mem-bangun bangsa! (ata/iwa/ong)