Mandiri Bukan Alasan Memenggal Prestasi

JOGJA-Pra-PON XIX/2016 Zona II bisa dibilang “zona neraka” bagi atlet panjat tebing, tak terkecuali Fitriyani. Srikandi panjat tebing andalan DIJ ini merasakan sendiri panas dan ketatnya persaingan. Atlet-atlet profesional yang rata-rata sudah berada pada level internasional, berada di Zona II ini. Tim panjat tebing DIJ harus bertemu dengan atlet andalan se-Jawa, Bali, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Dari nomor speed putri yang diikuti, Fitriyani hanya mampu mencuri tiket PON 2016 yakni dari speed track putri. Perjuangannya pun hanya mampu menempatkannya diperingkat empat nasional. Inilah yang membuatnya berstatus atlet mandiri menghadapi PON yang berlangsung di Jawa Barat bulan September mendatang.

Prestasi yang diraih saat Pra-PON, membuat Fitriyani sulit untuk menjadi atlet regular. KONI DIJ memiliki kriteria kelolosan di kejuaraan zona atau wilayah. Yakni harus berhasil menjadi juara di kejuaraan zona atau wilayah.

“Dominasi panjat tebing memang masih ada di pulau Jawa, dan itu semua bertemu di Zona II. Dan semua memang menyebutnya sebagai zona neraka,” katanya saat ditemui Radar Jogja disela-sela latihan di Arena Panjat Tebing Kompleks Stadion Mandala Krida, beberapa waktu lalu.

Atlet kelahiran, Sleman 20 April 1988 ini pun harus berbesar hati dengan statusnya sebagai atlet mandiri. Demikian halnya dengan seluruh tim panjat tebing. Bahkan untuk bagian putra, dua atlet yang juga berhasil merebut tiket PON, Ismu Nugroho Adinagoro dan Muhammad Fary Arrahman juga harus ekstra perjuanganan. Demi persiapan yang matang menuju ajang multievent terbesar di tanah air tersebut.

Tetapi Fitri dkk tidak sendiri. Dukungan para atlet panjat tebing senior yang luar biasa, menjadi pemantik semangat untuk bisa memberikan hal terbaik bagi Jogjakarta. Khususnya bagi dunia panjat tebing Jogjakarta. Terlebih Pengda Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DIJ juga tidak tinggal diam. Semua sengkuyung bareng-bareng dengan status mandiri yang ada pada atlet-atlet panjat tebing DIJ menuju PON tahun ini.

“Mba Eta (Agung Etty Hendrawati, mantan atlet panjat tebing dunia) pernah mengatakan, ‘Kita di PON ini memang jauh dari ideal, tapi kita berusaha untuk menjadi sama dengan mereka yang dikategorikan ideal’. Kata-kata itulah yang membuat saya bangkit lagi,”paparnya. (dya/dem/ong)