Kurang lebih tujuh bulan kedepan, pastilah akan terasa lebih berat. Latihan memang sudah jadi kebutuhan, dan akan dijalani rutin setiap hari, seperti program pelatihan yang sudah dirancang. Setiap hari, dari Senin hingga Jumat, pagi dan sore hari, dirinya berusaha untuk tidak memboloskan diri. Bahkan saat jadwal latihan tambahan di hari Sabtu.

Meski tidak hanya waktu tenaga yang dicurahkan, tapi juga biaya. Untuk sewa tempat latihan, seperti gym, dirinya memang harus merogoh kocek sendiri. Belum lagi jika ada biaya tak terduga lainnya, misal harus penyembuhan cidera, membeli vitamin dan sebagainya.

“Kalau insentif memang masih dapat, dan itu bisa saya gunakan untuk menutup biaya latihan. Untungnya juga masih ada bonus Porda 2015 kemarin,” ungkap perempuan pemegang medali emas SEA Games 2011 ini.

Namun dengan kondisi persiapan seperti ini, justru tidak membuatnya terbebani untuk memberikan yang terbaik. Meski tidak mentarget diri untuk medali, namun dirinya merasa akan lebih plong saat waktunya tiba bertanding besok. Dirinya mengaku, dia adalah tipe orang yang kalau latihannya mantep, saat berangkat bertanding pun juga akan mantep.

Hal ini berbanding terbalik, saat dirinya justru masuk dalam atlet unggulan di PON 2012 lalu. Target meraih dua medali emas, justru dirasa sebagai beban. Terlebih saat itu persiapan sangat tidak maksimal. Mengingat dirinya yang saat itu masih junior dan butuh latihan ekstra, dilatih dengan menu yang sama dengan atlet-atlet yang sudah senior.

“Saya akan berjuang mati-matian, ini juga akan jadi ajang pembuktian bagi saya juga Ismu dan Fary di level nasional. Semoga ini juga memotivasi adik-adik agar tidak putus asa memberikan prestasi bagi DIJ, sehingga prestasi panjat tebing DIJ tidak meredup,” paparnya. (dya/dem/ong)