Agus Budi/Radar Jogja
BONGKAR RUMAH : Tim gabungan dari beberapa unsur membongkar rumah Jumiyati di Kelurahan Kutoarjo. Ia menempati tanah milik Balai Probolo dan izinya tak diperpanjang.

Dibantu 80 Personel, Akan Pindah ke Butuh

Kesadaran seseorang tidak memandang usia dan pendidikan. Salah satunya diwakili Jumiyati, warga Kutoarjo. Dengan sukarela, ia memohon bantuan membongkar rumahnya, karena izin tinggal tidak diperpanjang. Seperti apa kisahnya, berikut liputannya.

Agung Budi, PURWOREJO
Beberapa orang sibuk menurunkan genteng. Mereka datang dari polsek, koramil, Pemkec Kutoarjo, dan Balai Probolo. Secara ramai-ramai, mereka membongkar rumah Jumiyati.

Awalnya, setelah tak lagi mengantongi izin dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Progo Bogowonto Luk Ulo (Probolo), rumah milik Jumiyati, 57, warga Kelurahan Kutoarjo dibongkar tim gabungan beberapa instansi, Selasa (23/2).

Pemilik berinisiatif minta pembongkaran. Karena ada rencana penertiban yang akan dilakukan pemerintah pada April mendatang.

Lebih dari 80 personel dari polsek, koramil, Pemkec Kutoarjo dan Balai Probolo membantu proses pembongkaran yang diawali penurunan genting yang dilakukan Jumiyati.

“Daripada dibongkar paksa pemerintah, saya pilih membongkar dengan meminta bantuan tenaga ke Pemerintah Kecamatan Kutoarjo,” ungkap Jumiyati.

Ia melanjutkan, tak ada tekanan dari pihak manapun terkait upaya pembongkaran tersebut. Dulunya, ia mengaku membayar sewa pada Dinas Pengairan. Kini izin tinggal tersebut tak diberikan lagi.

“Ada kesepakatan perjanjian yang dulu disepakati, jika sewaktu-waktu lahan itu akan digunakan pemerintah, warga harus meninggalkan lokasi tanpa ada ganti rugi. Saya merasa tidak lagi berhak menempati rumah ini. Sekarang saya pindah ke rumah anak di Desa Andong, Kecamatan Butuh,” imbuhnya.

Anak Jumiyati, Desi Ariyanti, 38, mengaku, tak keberatan dengan program yang direncanakan pemerintah. Ibunya menempati rumah di Kompleks Jalan S, Parman sejak 2006.

“Bagi kami tidak masalah. Ibu saya akan tinggal di rumah saya,” katanya.

Camat Kutoarjo Sudaryono menyatakan, selain rumah Jumiyati di RT 04/RW 10 Kelurahan Kutoarjo, masih ada 14 rumah yang akan ditertibkan untuk mendukung program pelebaran Jalan S. Parman dan pembangunan jembatan. Rumah tersebut berdiri di atas tanah saluran irigasi Sudagaran yang berada di bawah wewenang Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Jogjakarta.

“Proyek pembangunan jembatan itu rencananya dimulai pada April 2016,” kata Sudaryono.

Ia meneruskan, pembangunan jembatan dilakukan di sebelah Utara Jembatan Kalianyar lama. Tepatnya di atas persimpangan saluran irigasi Sudagaran. Jembatan akan dibangun menyesuaikan Jalan S Parman yang berhubungan dengan Pasar Kutoarjo. Proyek itu untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di traffic light Kalianyar. Jembatan baru tersebut berfungsi mengalihkan arus lalu lintas dari arah Kemiri ke Jalan S. Parman.(hes/ong)