ilustrasi

BANTUL – Kasus insektisida kedaluwarsa tak hanya menjadi sorotan politisi DPRD. Kejaksa-an Negeri (Kejari) Bantul pun mulai melirik kasus tersebut. Kajari Ketut Sumedana ber-janji menindaklanjuti temuan tersebut. Mantan Kajari Gianyar, Bali itu segera menerjunkan tim untuk menyelidiki dugaan kesalahan spek pengadaan racun serangga bantuan pe-tani tersebut. Ketut menegaskan, penye dia barang menjadi pihak paling bertanggungjawab jika alat bukti yang ditemukan menunjuk-kan adanya unsur kesengajaan dalam pengadaan insektisida tersebut. “Itu dari mana asalnya akan kami cek,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, kasus tersebut bermula temuan petani di Dusun Greges, Donotirto, Kretek beberapa waktu lalu. Batuan insektisida bermerek Burprosida dan Tsubame dari Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Bantul tidak layak pakai. Sebab, batas expired date yang tertera pada kemasan botol bertahun 2011.Dari temuan itu, muncul du-gaan adanya kesalahan saat pengadaan barang. Apalagi, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dis-pertahut) Yunianti Setyorini mengaku tak sempat mengecek produk secara detail.Belakangan, kasus teresbut juga menuai perhatian para pe-giat antikorupsi di Bumi Projo-tamansari. Sekretaris Masyara-kat Transparansi Bantul (MTB) Rino Caroko menyatakan, te-muan insektisida kedaluwarsa bisa menjadi pintu masuk bagi aparat hukum untuk menguak ketidakberesan pengadaan ban-tuan pertanian. “Kami akan bantu aparat menelusuri kasus ini,” ujarnya.

Tak hanya kejari, Rino juga mendesak inspektorat daerah segera turun tangan. Menurut-nya, penelusuran bisa diawali dari proses pengadaan racun serangga tersebut. Panitia pengadaan harus bisa menje-laskannya. Apakah melalui pengadaan langsung, lelang, atau pembelian e-katalog. Ter-masuk asal usul bantuan ter-sebut, sesuai pernyataan Yunianti Setyorini. “Bantuan pusat, Pemda DIJ, atau penga-daan sendiri,” telisiknya.

Rino mencurigai adanya per-mainan dalam pengadaan barang habis pakai itu. Mustahil peng-adaan barang baru berupa stok lama. Jika memang stok lama, seharusnya barang tersebut te-lah dihapuskan karena kedalu-warsa. Beda persoalan jika dalam pengadaan ada kesengajaan pihak rekanan mengoplos barang baru dengan stok lama. Menurutnya, praktik curang seperti itu acap kali terjadi di beberapa daerah. Tujuannya, memperoleh keuntungan tinggi. Rino khawatir praktik curang seperti itulah yang terjadi di Ban-tul. “Makanya, kasus ini harus segera ada kejelasan,” ujarnya.

Rino mengaku sudah lama mencium aroma ketidakberesan proses pengadaan barang di Dispertanhut. Menurutnya, pembelian insetisida menjadi agenda rutin hampir setiap ta-hun. Jumlahnya tidak begitu banyak karena menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Itu menjadi celah untuk menyia-sati proses pengadaan. “Logikanya, obat-obatan akan habis dalam setahun. Apalagi jumlahnya sedikit. Ini, kedalu-warsa pada 2011, kok masih ada dan digunakan,” bebernya.Terpisah, Kepala Dispertanhut Partogi Dame Pakpahan berda-lih tak mengetahui detail per-soalan tersebut. Alasannya, dia baru masuk kerja setelah mengambil cuti, sehingga belum sempat menggali informasi dari anak buahnya. “Segera saya klarifikasi,” janjinya. Partogi berkomitmen membuka persoalan tersebut ke publik secara transparan. (zam/yog/ong)