ANAK-anak yang menjadi korban kejahatan seksual di Sleman membutuhkan penanganan secara serius. Terutama terkait dengan kondisi psikologis anak. Peran orang tua maupun psikolog sangat diperlukan. Terlebih, dalam masa pendampingan untuk menghadapi trauma. Apalagi, korban memiliki rentang usia antara empat hingga 12 tahun.

Psikolog Ega Asnatasia Maharani, MPsi, Psi mengatakan, pendampingan terhadap korban harus dilakukan secara intesif. Namun, untuk melakukan pendampingan tidak bisa dijalankan begitu saja. Sebab, pendampingan dan penanganan yang keliru justru dapat memperparah keadaan psikologi si anak.

“Kita perlu lihat juga dampak bagi si anak seperti apa. Jangan sampai justru orang tua atau pendamping berlebihan menghadapi anak. Sehingga malah memperbesar trauma anak,” ungkapnya dihubungi kemarin (24/2).

Dalam melakukan pendampingan perlu tenaga professional atau psikoterapi. Pendampingan ini bisa dilakukan oleh seorang psikolog maupun psikiater. Selanjutnya, untuk trauma healing akan dilakukan secara bertahap.

Diawali dengan menilai dan melihat sejauh mana trauma yang dihadapi anak. Dilanjutkan dengan intervensi agar anak bisa berdamai dengan peristiwa tidak menyenangkan yang dialaminya. Dalam tahapan ini peran orang tua harus pas, termasuk tidak bertindak over acting selama proses trauma healing.

Ega, sapaannya, mengungkapkan tindakan over acting dari orang tua sangat berbahaya dalam tahap pendampingan. Perlu cermat dan cerdas untuk melihat sejauh mana dampak peristiwa tersebut pada anak. “Karena perbedaan dampak ini nanti juga berefek pada perbedaan perlakuan pendampingan,” jelas dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta ini.

Proses trauma healing beragam, mulai dari dijauhkan sementara dari lingkungan. Terutama lingkungan yang dekat dengan peristiwa pencabulan. Adapula penanganan yang lebih serius saat korban mengalami trauma.

Untuk menangani trauma berkepanjangan ini butuh penenang atau farmakologi. Ega menambahkan, tindakan pendampingan penting untuk mencegah silent trauma, di mana korban memendam trauma yang dialaminya.

“Silent trauma ini justru lebih bahaya dampaknya, karena bisa meledak sewaktu-waktu,” ungkapnya.

Salah satu contoh adalah korban yang beranjak jadi pelaku. Dijelaskan, korban yang mengalami silent trauma akan memendam perasaan tidak nyamannya. Kemudian perasaan terpendam itu meledak, dan menimbulkan efek yang besar. “Perilakunya bisa berubah. Bahkan orientasi seksnya juga bisa berubah,” katanya.

Pendekatan secara simultan termasuk proses pendekatan harus dilakukan dengan cara yang pas. Dalam proses trauma healing anak perlu diubah perasaan dan persepsinya terhadap peristiwa tidak mengenakkan yang baru dialami.

Anak jangan sampai sampai dibuat malu atau merasa bersalah. Tunjukkan bahwa orang tua dan lingkungan tetap bangga, menyayangi, dan menerima anak tanpa label-label apapun. Terpenting adalah memastikan anak sudah berdamai dengan peristiwa pelecehan yang dialaminya.

Menurutnya, anak harus tahu bahwa dia tetap dicintai apa adanya. Selanjutnya tanamkan agar anak tidak menyimpan dendam terhadap pelaku, dan tidak merasa aneh dengan dirinya sendiri. Untuk masa trauma healing tergantung kondisi anak.

“Kalau secara profesional, misal dilihat tanda-tanda sudah recovery pasti akan berhenti. Nah, langkah ini harus dilanjutkan orang tua di rumah. Tetap ada pendampingan dari tenaga professional secara berkala,” terangnya. (dwi/ila/ong)