SLEMAN – Akhir 2015, Pemkab Sleman beren-cana menambah pangkalan gas di setiap kecamatan, demi memperlancar distribusi elpiji bersubsidi ke-pada masyarakat. Terutama untuk menjangkau masyarakat di pelosok pedesaan. Faktanya, rencana tersebut belum bisa terealisasi bulan ini. Sebab, hingga kemarin (24/2).Pertamina selaku produsen gas melon belum mem-berikan lampu hijau untuk menambah kuota di wilayah DIJ. Selain itu, Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sleman mende-teksi belum ada kelangkaan stok di masyarakat. “Kami juga menunggu apakah penambahan kuo-ta untuk gas bersubsidi diterima Pertamina atau tidak,” kata Kepala Seksi Pengambangan Energi Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Purwoko Suryatmanto.

Menurutnya, rencana menambah pangkalan di 17 kecematan bertujuan memutus mata rantai distri-busi gas bersubsidi yang terlalu panjang. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk menekan harga jual gas 3 kg tersebut hingga sesuai HET (harga eceran tertinggi) Rp 15.500 per tabung. Lebih lanjut, Purwoko menjelaskan, setiap agen rata-rata memiliki 2-3 pangkalan. Total ada 17 agen elpiji yang menyuplai 1.365 pangkalan. Saat ini, pihak kecamatan belum rampung memetakan ke-butuhan gas bersubsidi di tiap pangkalan.Terpisah, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIJ Siswanto mengungkapkan, Pertamina memang belum menentukan besaran penambahan kuota gas bersubsidi. Menurutnya, penambahan jumlah pangkalan tergantung kuota yang diberikan Pertamina. Meskipun pemerintah daerah telah mengajukan tambahan kuota gas bersubsidi, Per-tamina belum meresponnya. (bhn/yog/ong)