HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MATI SURI: Kondisi Stasiun Kedundang di Dusun Trukan, Kulur, Temon, Kulonprogo, kemarin (24/2). Foto kanan, Kepala Daop 6 Jogjakarta Hendy Helmy.

Pengerjaan Trek Kedundang-Bandara Cukup Enam Bulan

Pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYI A) di Temon memberikan dampak bagi transportasi di Kulonprogo. Pasalnya, keberadaan bandara akan terkoneksi dengan transportasi darat, salah satunya kereta api. PT KAI Daop 6 Jogjakarta berencana menghidupkan Stasiun Kedundang yang sudah lama ditinggalkan. Seperti apa kondisinya saat ini?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo

KUMUH, kotor, dan angker. Begitulah kesan yang terlihat begitu melihat stasiun yang berada di Dusun Trukan, Kulur, Temon. Stasiun yang berada di lintasan antara Stasiun Wates dan Wojo ini masuk wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Jogjakarta.

Stasiun ini merupakan stasiun paling barat di DIJ. Rencananya, stasiun yang sudah lama tidak difungsikan ini akan dihidupkan kembali. Nantinya akan menjadi stasiun persimpangan menuju Bandara NYI A di Temon, Kulonprogo.

Kondisi bangunannya sangat tidak terawat, hampir semua atap (plafon) stasiun ambrol dan banyaknya coretan-coretan di hampir seluruh tubuh bangunan. Stasiun yang membelakangi laut selatan itu benar-benar kehilangan nyawa. Rumput di sekitar stasiun juga terkesan dibiarkan tumbuh liar.

Belum lagi dua pohon kamboja yang ada tepat di halaman muka, menambah suasana angker. Sementara itu, tepat di sayap barat ada sedikit petak tanah yang dimanfaatkan warga tak jauh dari stasiun untuk menanam cabai.

Stasiun ini resmi dinonaktifkan per 21 Juli 2007 usai dibukanya jalur ganda lintas Jogjakarta-Kutoarjo. Fungsi awal stasiun ini memang hanya sebagai stasiun persilangan kereta api saat masih menggunakan jalur rel tunggal. Dulunya, di antara Stasiun Kedundang dengan Stasiun Wates juga terdapat Halte Pakualaman yang berlokasi di Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo.

Beberapa referensi menyebutkan, Stasiun Kedundang memiliki arsitektur mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang, dan Stasiun Bantul. Ciri khasnya ada pada desain atap dan lubang ventilasi udara berbentuk bulat.

Stasiun ini diperkirakan dibangun saat pembangunan jalur rel Jogjakarta-Maos-Cilacap pada kurun waktu tahun 1876-1887. Stasiun dibangun oleh perusahaan kereta api negara pemerintah Hindia Belanda atau Staatsspoorwegen.

Namun secara keseluruhan, bangunan inti stasiun masih berdiri kokoh beserta papan nama yang masih terpasang. Kendati kayu jendela dan pintu sudah tidak ada lagi, serta lantai dan ruang tunggu yang menjamur. Namun, bagian toilet, sumur, dan ruang sintelis di selatan bangunan stasiun masih ada.

Rencananya, seiring dengan realiasi pembangunan Bandara NYI A, Stasiun Kedundang akan diaktifkan kembali. Stasiun ini akan menjadi stasiun penghubung antara jalur kereta api utama menuju jalur kereta api bandara. Setidaknya hal itu dinyatakan oleh Executif Vice President (EVP) Daerah Operasional (Daop) 6 Jogjakarta Hendy Helmy belum lama ini.

“Nantinya memang akan dibangun stasiun bandara baru yang khusus melayani penumpang dari dan menuju bandara,” terangnya.

Dijelaskan, Stasiun Kedundang nantinya akan dijadikan stasiun penghubung. Termasuk dibuatkan jalur ke selatan menuju bandara baru sebagai alternatif transportasi menuju bandara yang terintegrasi.

Menurut Hendy, pihaknya kini masing menunggu Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I yang tengah menyiapkan lahannya. Jika semua sudah beres, tidak sulit untuk menghidupkan kembali Stasiun Kedundang. Dia meyakini, pemasangan rel bisa lebih cepat dari pembangunan bandara.

Bahkan jika proses pengadaan lahan dan izin untuk pembangunan jalur sudah beres lebih awal. Setahun sebelum bandara NYI A beroperasi, Stasiun Kedundang sudah hidup dan siap melayani penumpang bandara. Jika AP I memasang target 2020 bandara beroperasi, tahun 2019 jalur kereta api sudah bisa disiapkan dan terintegrasi dengan bandara.

“Perkiraan kami, untuk membangun jalur kereta api dari Stasiun Kedundang menuju bandara NYI A hanya dibutuhkan waktu sekitar enam bulan saja. Terlebih jarak Stasiun Kedundang ke bandara hanya sekitar empat kilometer. Tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Disinggung frekuensi penumpang kereta api dari atau menuju bandara, Hendy menjelaskan, stasiun khusus penumpang bandara sangat dibutuhkan. Itu karena intensitasnya pasti akan tinggi baik penumpang dari atau menuju bandara.

Mengantisipasi hal itu, pihaknya juga sudah mempersiapkan pembangunan stasiun khusus bandara, yakni di sisi utara Stasiun Tugu, Jogja dan Stasiun Balapan, Solo. “Menimbang frekuensi penggunaan kereta yang jauh lebih tinggi daripada kereta lainnnya, nantinya juga akan dilakukan pemasangan aliran atas untuk jalur kereta api listrik (KRL),” ungkapnya.

Hendy menjelaskan, seperti KRL di Jakarta agar lebih handal dari KA Prameks yang sekarang beroperasi. Diungkapkan, kalau KA Prameks merupakan modifikasi dari KRL menjadi mesin diesel. “Jadi kurang efektif,” jelasnya.

Pemasangan aliran atas rencananya mulai Stasiun Kutoarjo-Solo. Pemasangan aliran atas ini akan membuat tranportasi mode kereta akan lebih maksimal. Daop 6 bahkan sudah menyiapkan jaringannya, pemasangan bahkan sudah ditarget paling lambat tahun 2017 mendatang. (ila/ong)