SLEMAN – Penerapan kantong plastik berbayar di pasar tradisional akan memerlukan waktu yang cukup panjang. Pasalnya, memberikan kantong plastik kepada pembeli di pasar tradisional sudah menjadi sebuah tradisi.

Kepala Dinas Pasar Sleman Tri Endah Yitnani memperkirakan, akan butuh waktu lima tahun lamanya untuk mengubah kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, pihaknya akan mulai melakukan pembinaan di beberapa pasar tradisional mengenai kesadaran menjaga lingkungan.

“Tidak mudah mengubah perilaku yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun,” jelas Endah kepada wartawan, Kamis (26/2).

Saat ini saja di Sleman terdapat 41 pasar tradisional. Semua pasar tersebut telah menerapkan kebijakan memberikan kantong plastik tanpa harus berbayar. Nah, bila kebijakan tersebut dipaksakan harus diberlakukan, para pedagang khawatir akan ditinggalkan oleh pelanggan.

“Maka dari itu mindset antara penjual dan pembeli ini yang harus diubah,” jelasnya.

Sosialisasi penggunaan kantong plastik berbayar, jelasnya, nantinya akan diberlakukan secara bertahap. Sejumlah pasar yang sudah dibidik untuk menyosialisasikan plastik berbayar yakni Pasar Gentan dan Pasar Cebongan. Juga di Pasar Gamping, Pasar Tempel, Pasar Sleman, dan Pasar Turi. Sosialisasi tersebut nantinya akan mengarah pada bahaya penggunaan kantong plastik bagi lingkungan.

Dia menyebut, sampah yang dihasilkan oleh 41 pasar tradisional sudah cukup mengkhawatirkan bagi lingkungan. “Sehari saja sebanyak 20 ton sampah yang dihasilkan. Setahun jumlahnya bisa mencapai ribuan,” jelasnya.

Oleh karena itu, agar kebijakan mengelola sampah dari pasar ini bisa berhasil, diharapkan ada regulasi yang mengatur mengenai penggunaan kantong plastik. Dengan adanya aturan yang mengikat, diharapkan kesadaran masyarakat bisa lebih meningkat.

Sebelumnya, salah seorang pedagang di Pasar Sleman Jumanah mengaku, belum mengetahui kebijakan penerapan plastik berbayar. Bila pasar tradisional harus menerapkan kebijakan tersebut, dia khawatir akan memberatkan pelanggan.

“Sudah menjadi tradisi bila berbelanja, kami berikan plastiknya secara gratis. Sebab kami sudah hitung semuanya,” jelas Jumanah.

Dia menjelaskan, dalam sehari menghabiskan satu bungkus kantong plastik berukuran sedang berisi 50 buah. Belum lagi kantong plastik ukuran lainnya. Dia mengakui, jika pembeli hanya sedikit berbelanja, memang rugi ketika memberikan kantong secara cuma-cuma. “Terkadang bila ada yang minta kantong besar kami dikenakan biaya Rp 1.000,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli Rista mengaku sudah mengetahui kebijakan kantong plastik berbayar. Makanya kebiasaan membawa kantong belanja sendiri sudah dia terapkan. “Kecuali kalau belanja daging, tetap harus menggunakan kantong dari penjual,” jelasnya. (bhn/ila/ong)