MUNGKID – Musim hujan masih menghantui warga desa yang berdomisili di sekitar sungai berhulu puncak Gunung Merapi. Sedikitnya 20 juta meter kubik material sisa erupsi 2010 berpotensi lahar hujan. Mengancam keselamatan warga di 322 dusun, yang tersebar di 54 desa. Aliran lahar hujan sewaktu-waktu bisa membanjiri kawasan di tujuh wilayah kecamatan. Yakni, Mungkid, Srumbung, Ngluar, Salam, Dukun, Sawangan dan Muntilan.

“Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, lahar hujan bisa membanjiri 10 sungai di wilayah Kabupaten Magelang,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sujadi kemarin (25/2).

Yang harus diperhatikan justru saat hujan deras mengguyur puncak Merapi. Meski bagian hilir (lereng) tidak hujan, potensi lahar hujan tetap ada.

Sejauh ini memang belum ada laporan banjir lahar hujan. Kendati demikian, seandainya bencana itu terjadi, Sujadi menyatakan siap menanggulangi. Tak kurang lima ribu relawan disiapkan dalam upaya mitigasi bencana. Dari jumlah itu, 600 orang diantaranya mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Relawan yang ada mayoritas dari Kecamatan Dukun, Srumbung dan Sawangan,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi dampak banjir lahar hujan, Balai Besar Wiyalah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) membangun saluran pengelak di Kali Putih, Desa Jumoyo, Gulon. Saluran pengelak sepanjang 2,5 km dengan lebar 70 meter dan tinggi rata-rata 5 meter diyakini mampu menampung material lahar hujan. Yang sejak erupsi 2010 meluap hingga Jalan Raya Magelang-Jogjakarta.

“Proyek itu dikerjakan selama 720 hari dengan biaya Lon JICA sebesar Rp 105 miliar,” ungkap Pelaksana Teknis, Pelaksana Lapangan Gunung Merapi,) BBWSO Heri Priyatno

Pekerjaan proyek yang dimulai akhir 2015 itu dilaksanakan dengan sistem kontrak tahun jamak (multi years).

Pantauan Radar Jogja di lokasi proyek, para pekerja masih menyelesaikan tahap pengecoran bagian samping Jembatan Kali Putih. (ady/yog/ong)