RIZAL SN/RADAR JOGJA
TANGKAL ISIS: Pemateri diskusi Tangkal Paham Radikal ISIS di UIN Sunan Kalijaga, kemarin (25/2)
SLEMAN – Isu negara Islam Irak Syiria (ISIS) telah menjadi isu global, termasuk di Indonesia. Terlebih setelah munculnya insiden bom Sarinah Thamrin, Jakarta beberapa waktu lalu. Peneliti LIPI Anas Saidi mengungkapkan, salah satu lahan tumbuhnya radikalisme ada di kalangan mahasiswa.

Menyikapi itu, Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Ibnu Burdah mengatakan, gerakan radikal ekstrem, berkembang di situasi kacau. Itulah yang saat ini terjadi di Timur Tengah.

“Kondisi itu menjadi tempat persemayaman yang subur dan nyaman bagi proses rekrutmen kelompok radikal. Ini terjadi di wilayah konflik seperti Irak, Suriah, dan Libya,” kata Ibnu saat seminar nasional Membendung Ideologi ISIS, Antara Harapan dan Tantangan di UIN Sunan Kalijaga Jogja, kemarin (25/2).

Dicontohkan, di Libya pascaturunnya rezim Kadafi, tidak ada kejelasan struktur kekuasaan. Masyarakatnya tanpa hirarki, dan orientasinya berbeda-beda. Yakni antara berebut minyak dan pajak. “Pada titik itu ISIS berkembang pesat,” ungkapnya.

Di sisi lain, propaganda ISIS tergolong canggih dan modern mengalahkan negara Islam ekonomi tengah. Juga melampaui jangkauan kantor berita internasional seperti BBC London. “ISIS tidak bodoh. Orang yang pintar lebih bisa terpengaruh dibandingkan orang yang tidak pernah buka internet. Teknologinya cangih,” jelasnya.

Dosen Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo Maurisa Zinira menambahkan, munculnya ISIS merupakan fenomena modern. Berbeda dengan organisasi sebelumnya, penguasaan tekonologi ISIS lebih modern. Mereka, katanya, pandai memanfaatkan media dan melihat peluang mengembangkan dan melakukan rekrutmen. “Pandai merebut hati anak muda untuk ikut mereka,” ujarnya.

Kenapa banyak anak muda mendukung ISIS ? Menurut Maurisa, ada bahasa yang sama yang dipropagandakan kepada umat Islam. Islam, disebut terlalu lama dizalimi. Itu menjadi panggilan muslim di mana saja berada.

Selain itu, ISIS juga menjanjikan kesejahteraan ekonomi. Mahasiswa yang ingin berekspresi, tapi tidak tersalurkan dan kecewa dengan pemerintah, akhirnya terpengaruh.

Menangkal bahaya radikalisme, kata Maurisa, perlu kerja sama kombinasi hardpower dan softpower. Tidak serta-merta ditonjolkan sisi pemberantasan. Namun juga tak kalah penting melalui softpower.

“Pemutusan dan perubahan ideologi radikal bisa mengurangi meredam ISIS, tidak hanya pendekatan militer. Tapi bisa juga melalui kultur, budaya, dan agama,” katanya. (riz/din/ong)