JOGJA – Kota warisan budaya dunia, predikat tersebut ingin diraih oleh DIJ. Untuk mendapatkan penghargaan dari UNESCO itu, persiapan mulai dilakukan. Hal itu sekaligus untuk memperkuat status Keistimewaan DIJ.

Ketua Delegasi Indonesia di UNESCO Wiendu Nuryanti mengatakan, aspek kebudayaan yang akan diajukan baik yang benda maupun tak benda. Hal ini sejalan dengan Keistimewaan DIJ. “Sekarang sedang dipersiapkan. Mungkin diajukannya dua tahun ke depan,” jelas Wiendu usai bertemu dengan Gubernur DIJ HB X di Kepatihan, kemarin (25/2).

Mantan Wamendikbud urusan Kebudayaan itu mengatakan, meski namanya kota warisan budaya dunia, tidak berarti hanya Kota Jogja saja. Melainkan sebagai wilayah kebudayaan dalam arti luas meliputi kabupaten/kota. Termasuk pertanian, tradisi, seni, gunung merapi, dan laut. Menurutnya, antara benda dan tak benda tak bisa dipisahkan. “Mencakup semua aspek Keistimewaan DIJ,” terangnya.

Diakui Wiendu, proses pengajuan ke UNESCO membutuhkan waktu lama. Dia mencontohkan saat memperjuangkan Subak, Bali sebagai World Heritage City perlu waktu hingga 12 tahun. Tapi, lanjut dia, sekarang pihaknya sudah tahu strateginya. Ketika pengajuan Subak kendalanya dalam mengisi dokumen tidak seperti yang diharapkan. “Bahasa Inggrisnya versi Perancis. Tetapi hal itu bisa diatasi. Apabila disetujui, akan menjadi sumber ekonomi,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengatakan, pengajuan DIJ sebagai World Heritage City sebenarnya merupakan ide dari Pemprov DIJ. Ide tersebut dicetuskan sejak 2014 lalu. Menurutnya, Jogjakarta perlu punya keunggulan untuk diangkat ke tingkat dunia. Hal itu
supaya manfaatnya lebih besar. “Agar ada kepedulian dunia terhadap eksistensi Jogjakarta,” ungkapnya.

Menurut Umar, garis imajiner dan sumbu filosofis satu-satunya ada di Jogjakarta. Karena hal itu bukan sekadar nama, tetapi filosofi kehidupan dari sumbu filosofis dan garis imajiner. Hal itu sudah ada kajian ilmiahny. “Dan, ini salah satu yang akan diajukan. Tentunya juga butuh dukungan masyarakat untuk menyukseskan,” jelasnya. (pra/ila/ong)