RIZAL SN/RADAR JOGJA
SEDERHANA: Museum Dokumenter Kebencanaan (Disaster Documentary Museum) yang dibuat di Dusun Srodokan, Cangkringan, Sleman.

SLEMAN – Indonesia termasuk negara rawan bencana alam, baik letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Itu tak lepas dari posisi geografisnya yang berada di daerah garis cincin api, dan pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia. Bahkan beberapa pakar menyebut, kerawanan Indonesia melebihi Jepang dari sisi kebencanaan.

Hanya, sedikit dari masyarakat yang selalu awas terhadap ancaman bencana. Dari sedikit yang waspada itu, mereka selalu memberikan peringatan dan menghidupkan ingatan tentang bencana. Salah satu bencana alam letusan gunung berapi yang mendapat perhatian luas adalah Erupsi Merapi 2010. Letusan dahsyatnya telah meluluhlantakan rumah serta harta benda milik warga yang berada di lereng Merapi.

Kini, pasca erupsi warga kembali menjalani kehidupan baru dengan tinggal di beberapa hunian tetap (huntap). Namun, peristiwa itu tetap mereka kenang dan menjadikan pelajaran berharga, guna menjalani hidup yang selaras dengan alam.

Tak ingin peristiwa dalam hidup mereka hilang tertelan waktu, di Huntap Wukirsari Dusun Srodokan, Cangkringan, Sleman warga membangun Museum Dokumenter Kebencanaan (Disaster Documentary Museum) secara mandiri.

“Museum ini dibangun secara mandiri. Sudah akan direalisasikan 2015 akhir lalu, tapi baru terealisasi sekarang,” kata Kepala Dukuh Gungan-Srodokan Totok Hartanto, Kamis (25/2).

Pada erupsi 2010 lalu, tepatnya 5 November, Dusun Srodokan luluh lantak setelah diterjang aliran lava pijar Merapi yang melintasi Sungai Gendol. Warga berkeinginan, sejarah desa mereka tetap terjaga dan selalu diingat.

“Jangan sampai kejadian yang juga melanda warga dusun ini hanya menguap hilang tertelan waktu. Sejarah harus tercatat dan terdokumentasikan meski hanya lingkup dusun,” ujarnya.

Selama ini, lanjutnya, dari sekian banyak peristiwa dan bencana alam yang terjadi, jarang ada masyarakat yang mendokumentasikannya dalam satu wadah. Kalau pun ada, itu dibangun oleh pemerintah atau lingkup komunal yang besar.

Sementara, setiap dusun tentu mengalami hal yang berbeda meski peristiwanya. Museum ini sebagai tetenger bagi warga dan generasi selanjutnya. “Bahwa pernah terjadi Erupsi Merapi yang sangat besar tahun 2010,” ungkapnya.

Di samping itu, keberadaan museum juga menjadi media edukasi bagi masyarakat dan generasi selanjutnya. Masyarakat, menurutnya, tetap harus hidup selaras dengan alam dan waspada. Termasuk juga edukasi mengenai bagaimana penanggulangan bencana.

Museum di Huntap Wukirsari ini sengaja dibuat sederhana. Ruangannya meminjam bangunan huntap yang belum ditempati. Dindingnya tersusun dari batako dan lantainya memang sengaja masih tanah.

Di dalam bangunan, terdapat sekitar 100 foto yang mengambarkan situasi Dusun Srodokan pada 5 November 2010. Beberapa foto yang dipajang di antaranya, detik-detik turunnya awan panas Merapi dan lelehan lava pijar. “Semua original hasil jepretan kamera warga. Ini belum diresmikan, masih akan terus kita lengkapi,” katanya. (riz/ila/ong)