BANTUL – Penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada awal tahun ini cukup tinggi. Hingga pekan ketiga bulan ini saja tercatat ada 264 penderita DBD. Tingginya angka penderita ini lantaran masih rendahnya kesadaran masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Nah, saat memasuki musim penghujan masyarakat lengah. Sehingga tidak menggiatkan program PSN yang berpangkal pada 3M. Yaitu, menutup, menguras, dan mengubur.

Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Pramudi Darmawan menegaskan, masyarakat yang bertanggungjawab menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk dari perabot-perabot yang menjadi tampungan air. Seperti bak penampungan air, kaleng, dan botol bekas.

Dinkes mustahil mengecek dan memastikan satu persatu wilayah steril dari perabot yang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk Aedes Aegypti itu. “Dan fungsi petugas jumantik (juru pemantau jentik) sendiri hanya mengecek ada jentiknya atau tidak. Kalau ada baru kemudian memberikan edukasi,” terang Pramudi kemarin (25/2).

Sayangnya, masyarakat dinilai kurang menyadari hal ini. Itu terbukti dengan data jumlah penderita DBD. Pada Januari lalu, ada 180 penderita. Berikutnya, Februari menyentuh angka 84 pasien. Total, sepanjang 2015 lalu 264 penderita. Menurut Pramudi, nyamuk mampu bertahan hidup hingga dua bulan.

Dengan kata lain, nyamuk yang hidup dan menularkan penyakit DBD pada Januari diperkirakan hasil penetasan November lalu. Penetasan pada Desember menghasilkan nyamuk yang hidup pada bulan ini. Telur atau jentik nyamuk ini mustahil menetas bila tidak ada sarana penunjangnya. Seperti perabot-perabot yang menjadi tampungan air. “Pada November dan Desember kan sudah hujan meski tidak begitu intens,” ujarnya.

Atas dasar itu, Pramudi memperkirakan penularan DBD pada Maret, bahkan April tetap berpotensi terjadi. Meskipun Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika meramal Maret sudah memasuki musim kemarau. Itu jika masyarakat tidak menggiatkan program PSN pada bulan ini.

Pramudi mengimbau masyarakat merubah mindset antisipasi penularan penyakit DBD. Masyarakat diminta tidak mengandalkan fogging. Tetapi, justru mengedepankan PSN. Sebab, fogging hanya membasmi nyamuk dewasa. Bukan jentiknya. “Dan masyarakat sendiri baru sadar dan meminta fogging bila sudah ada yang menderita DBD,” keluhnya.

Dinkes sendiri tidak serta-merta menerjunkan petugas penyemprotan ke wilayah tertentu. Tetapi, ada sejumlah kondisi dan persyaratan yang menjadi pertimbangan. Pramudi menguraikan, Dinkes baru melakukan survei ke lokasi bila ada laporan kewaspadaan penularan DBD dari rumah sakit. Atau, laporan dari masyarakat yang disertai keterangan rumah sakit atau puskesmas.

Surat ini berfungsi untuk memastikan adanya penderita DBD. Jika hasil survei menunjukkan status bebas jentik di atas 95 persen Dinkes baru melakukan penyemprotan. “Sembarangan menyemprot bisa membuat nyamuk makin kebal,” tambahnya.(zam/din/ong)