SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
DIPERIKSA INTENSIF: Tersangka pencabulan Subaryanto, 31, yang mencabuli delapan anak-anak di bawah umur saat dimintai keterangan oleh petugas di ruang pemeriksaan tahanan Direskrimsus Polda DIJ.
JOGJA – Pelaku pencabulan Subaryanto, 31, yang mencabuli delapan anak-anak di bawah umur mengaku perbuatannya hanya sebatas bergurau. Kendati begitu, pemeriksaan intensif terhadap pelaku masih dilakukan. Kepolisian berencana memeriksa kejiwaan pelaku.

Pelaku menyebut, perlakuannya kepada korban tidak sampai mengajak berhubungan intim dan yang dilakukan dia sebut dengan istilah “kopling”. “Awalnya saling pegang-pegangan satu sama lain. Terus semua dikopling, sesama teman sering begitu,” katanya kepada Radar Jogja, Kamis (25/2).

Dia juga mengakui kerap mengajak anak-anak menonton film porno. Sehingga timbul niatan untuk mencabuli anak di bawah umur yang berusia 4 hingga 12 tahun itu. Dia mengaku menyesali tindakannya tersebut.

“Biasa lihat TV, film, dan DVD. Film horor hantu dan misteri. Tidak ada iming-iming apa-apa. Mereka tiap hari bermain di tempat saya karena nyaman,” ujarnya.

Dia mengatakan, beberapa anak biasa menginap di tempatnya. Saat melakukan aksi cabulnya, dia mengaku mendapat kenikmatan. “Mereka kalau tidak nyaman ndak mungkin siang malam di tempat saya. Ada yang sampai tidur di tempat saya. Saya berusaha memberikan kenyamaanan,” kilahnya.

Wadir Reskrimum Polda DIJ AKBP Djuhandani mengatakan, polisi akan membawa pelaku ke psikiater untuk pemeriksaan kejiwaannya. Kepada penyidik, pelaku mengaku tidak ada trauma masa lalu yang membuatnya melakukan pencabulan terhadap korbannya. “Sementara hanya perlakuan seksual karena nonton film, itu saja,” terangnya.

Djuhandani mengatakan, untuk para korban akan mendapatkan perlindungan secara psikologi dan trauma healing. “Semua kita kembalikan ke orang tua. Sementara ini para korban tidak terlihat kecenderungan tertekan. Meski begitu tetap ada perlindungan untuk mereka,” tandasnya.

Dia mengimbau kepada para orang tua untuk senantiasa memberikan pengawasan kepada anak-anaknya. Belajar dari kejadian tersebut, peristiwa pencabulan itu terjadi saat anak-anak bermain di pagi dan siang hari. Sementara para orang tua masih dalam jam kerja.

Sementara itu, Dosen Psikologi dari Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Paulus Eddy Suhartanto menilai perlu penelusuran lebih jauh terkait motif pelaku. Hal itu mengingat korbannya semuanya masih di bawah umur, baik perempuan dan laki-laki. “Harus ditelusuri apakah karena efek dari nonton film atau yang lain,” ulasnya.

Menurutnya, korban harus mendapatkan pendampingan. Agar ke depan tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pelaku. “Orang tua dan masyarakat harus mengawasi perilaku anak. Karena kadang perilaku yang dianggap biasa, namun jika dibiarkan bisa menjadi bibit kekerasan seksual atau perilaku menyimpang,” katanya. (riz/ila/ong)