KULONPROGO – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ akan memutus 30 jaringan besar narkoba di DIJ. Target ini harus direaliasikan. Karena peredaran narkoba di DIJ dinilai cukup mengkhawatirkan.

Kulonprogo juga harus bersiap-siap. Karena akan memiliki bandara internasional baru yang memungkinkan jadi pintu masuk para sindikat pengedar narkoba.

Kepala BNNP DIJ Kombes Pol Sutarmono menegaskan, Jogjakarta dianggap sebagai pasar potensial oleh sindikat. Alasannya, DIJ merupakan miniaturnya Indonesia. Banyak orang, khususnya mahasiswa yang datang dari berbagai daerah.

“Jogjakarta itu miniaturnya Indonesia. Mahasiswa datang dari mana-mana. Mereka inilah yang tengah disasar para sindikat,” tegas Sutarmono usai menjadi pembicara dalam deseminasi informasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) bagi puluhan pelajar SMP di Pemkab Kulonprogo, kemarin (25/2).

Diungkapkan, awal tahun ini, BNNP berhasil mengungkap peredaran 50 kilogram ganja dari Aceh. Ini menjadi indikasi DIJ tengah menjadi sasaran pasar narkoba. Menurutnya, jika satu gram ganja bisa dikonsumsi 5 orang, 50 kilogram ganja tersebut menyasar 250 ribu orang.

“Selain itu, pada September 2015, BNNP juga mengungkap peredaran 2.675 gram shabu yang bisa menyasar hingga 10.400 warga DIJ,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan realita tersebut sasaran operasi tentu tak hanya tempat hiburan. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga kos-kosan, pondokan, dan rusunawa.

“Kami terus berupaya untuk memutus jaringan sindikat besar tersebut. Pada tsahun ini, kami targetkan untuk memutus 30 jaringan besar di DIJ. 30 kasus besar tersebut juga harus ditangkp di DIJ tahun ini,” tegasnya.

Sutarmono menjelaskan, dari hasil riset BNN dengan Pusat Penelitian Kesehatan UI, pada tahun 2015, orang yang terkena narkoba sebanyak 60.182 kasus di Jogjakarta. Dari jumlah itu, mayoritas masih coba pakai 23.048 orang. Sedangkan yang teratur pakai atau kecanduan 18 ribu orang.

“Menandakan yang 23.048 coba pakai ini, pinter-pinter-nya para sindikat mempengaruhi operasi regenerasi pangsa pasar anak-anak sekolah,” jelasnya.

Dipaparkan, kasus penyalahguna narkoba paling banyak dari kalangan pekerja. Karena secara finansial mereka punya uang, sebagai dopping karena tekanan pekerjaan atau sejak sekolah sudah menggunakan. Dari kalangan pekerja tersebut, paling banyak lulusan SMA dan mahasiswa.

Hasil pemetaan BNNP DIJ, saat ini yang paling rawan narkoba adalah Kota Jogja, disusul Sleman dan Bantul. Namun, Kulonprogo harus bersiap, mengingat akan dibangun bandara internasional.

“Kalau di Kulonprogo tingkat kerawanannya relatif belum tinggi. Saya sudah ketemu Pak Bupati untuk percepatan pembangunan BNNK di Kulonprogo. Karena dikhawatirkan masuknya narkoba nanti dari bandara ini,” paparnya.

Agus Sudarmaji, Perwakilan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kulonprogo menuturkan, pelaksanaan deseminasi informasi P4GN digelar dua hari. Hari Selasa (23/2) bagi pelajar SMA dan Kamis (25/2), untuk pelajar SMP.

“Para peserta yang ikut kegiatan ini akan membantu BNN menyebarkan informasi bahaya narkoba ke teman-temannya di sekolah. Mereka juga diharapkan jadi contoh teman-teman sebayanya,” tuturnya.(tom/hes/ong)