TEMPUH BAHAYA: Para siswa SDN Rebug memanfaatkan rakit untuk menuju tempat sekolah. Bupati Purworejo Agus Bastian minta pembangunan jembatan darurat dipercepat, agar siswa tak terhambat pendidikannya.
PURWOREJO – Jembatan di Desa Rebug, Kecamatan Kemiri, Purworejo terputus. Akibatnya, puluhan siswa terpaksa menggunakan rakit saat melintasi Sungai Bedono. Terutama saat berangkat dan pulang dari sekolah.

Keberadaan rakit tersebut dibuat secara gotong royong oleh warga. Karena mereka menilai terlalu mahal, jika anak ke sekolah harus mengeluarkan Rp 3 ribu per hari untuk biaya transportasi.

Bupati Purworejo Agus Bastian sudah melihat dari dekat keberadaan rakit tersebut. Selama ini memang, rakit sederhana tersebut jadi penghubung warga beberapa pedukuhan dengan lokasi SDN Rebug maupun PAUD.

Saat meninjau lokasi, bupati diikuti Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purworejo Fathori, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Purworejo Susanto, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), camat Kemiri dan pemerintah desa setempat.

“Saya menindaklanjuti instruksi dari gubernur soal jembatan putus di sini (Rebug) dan membutuhkan perhatian pemerintah,” ungkap Bastian kemarin (25/2).

Selanjutnya, pemkab berencana membuat jembatan darurat di atas bangunan yang putus pada November 2014. Beberapa tiang penyangga yang masih ada akan dimanfaatkan dan ditambah beberapa tiang baru.

“Jembatannya harus direalisasikan dalam waktu dekat. Dengan begitu, anak-anak tak harus menempuh bahaya untuk sekolah,” tambahnya.

Kades Rebug Subekhi menyambut gembira atas respons bupati. Menurutnya, pemdes telah mengusulkan perbaikan jembatan melalui BPBD. Sejauh ini, pemerintah sudah menyetujui usulan dan telah membuat desain jembatan.

“Namun rencana pembangunan tahun 2015 gagal, karena desa terkendala persoalan kelengkapan administrasi. Akibatnya jembatan mangkrak dan warga berinisiatif membuat rakit untuk menyeberangkan anak ke sekolah,” ungkap Subekhi.(cr2/hes/ong)