KULONPROGO – Terhitung hingga Desember 2015, warga Kulonprogo yang masih berstatus buta huruf mencapai 6.700 orang. Mereka berusia antara 15-59 tahun. Jumlah tersebut menjadi pekerjaan besar Dinas Pendidikan Kabupaten Kulonprogo.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Dinas Pendidikan (Dindik) Kulonprogo Tutik Sriyani menyatakan, jumlah tersebut sudah lumayan menurun, dibandingkan sebelumnya yang mencapai 7.540 orang. Pihaknya juga menyatakan terus berupaya menekan angka tersebut.

“Kami juga gencarkan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Semua kabupaten/kota bersama Pemda DIJ sepakat bersama-sama mengentaskan buta aksara di DIJ,” tegas Tutik kemarin (24/2).

Dijelaskan, dalam menekan angka buta huruf, pihaknya didukung beberapa pihak. Di antaranya Kodim 0731/Kulonprogo yang menerjunkan babinsa sebagai tutor di sejumlah PKBM. Para babinsa tersebut secara sukarela membantu tanpa honor khusus.

“Keterbatasan kemampuan anggaran daerah menjadi salah satu kendala program penuntasan buta huruf. Kalau tutor resmi ada insentifnya sebesar Rp 125 ribu per bulan. Namun itu baru diberikan per lima bulan dalam setahun,” jelasnya.

Setiap warga belajar yang sukses menjalani program penuntasan buta huruf berhak mendapat surat keterangan melek huruf. Jika kondisinya memungkinkan, mereka diarahkan Kejar Paket A, B, atau C.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo tidak menampik kondisi tersebut. Ia menyatakan, angka melek huruf di Kuloprogo mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir.

“Data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kulonprogo menyebutkan, angka melek huruf di tahun 2015 mencapai 94,19 persen. Saya berharap angka buta huruf bisa ditekan secara bertahap,” tegas bupati.(tom/hes/ong)