Agung Budi/Radar Jogja
SIAP PENTAS: Sendratari Bedhayan Jumenengan akan menjadi pertunjukan utama dalam peringatan Jumenengan RAA Cokronegoro I ke-185 sebagai bupati Purworejo pertama.

PURWOREJO – Pelaksanaan peringatan Jumenengan ke-185 RAA Cokronegoro I sebagai Bupati Purworejo terbuka untuk masyarakat umum. Masyarakat diizinkan mendatangi lokasi peringatan yang dipusatkan di Pendopo Rumah Dinas Bupati, sore ini (27/2) mulai pukul 19.30.

“Kegiatan ini terbuka bagi siapapun yang ingin melihat dari dekat peringatan Jumenengan. Kalau undangan resmi, kami sebar sekitar 400 undangan,” ungkap Kasi Sejarah Kepurbakalaan dan Nilai
Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Eko Riyanto, kemarin (26/2).

Mengantisipasi tingginya animo masyarakat, lanjut Eko, pihaknya juga telah menyiapkan kursi cadangan yang akan ditempatkan di luar pendopo.

“Tampaknya pelaksanaan jumenengan ini akan lebih ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengatasi hal itu kami sudah siapkan
kursi tambahan guna menampungnya,” tambahnya.

Terkait jumlah undangan yang mencapai 400 buah, Eko menjelaskan, sebagian besar undangan didistribusikan di Purworejo pada
jajaran Forkominda, SKPD, dan instansi terkait. Di luar itu, undangan diberikan pada keluarga besar RAA Cokronegoro I. Baik yang tinggal di Purworejo maupun luar kota.

“Untuk luar kota ada 70 undangan. Paling jauh undangan dikirim ke luar Jawa. Tapi ke mana secara pasti, saya kurang tahu. Karena saya juga tidak mungkin membaca satu per satu,” ungkap Eko.

Menyinggung rangkaian acara peringatan jumenengan, Eko Riyanto mengatakan, akan disampaikan perjalanan sejarah RAA Cokronegoro I hingga menduduki jabatan Bupati pertama di Purworejo serta hasil karya yang pernah dilakukannya.

“Rencananya, perjalanan itu akan disampaikan Pak Kadin (Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga). Sedangkan sajian utama
berupa Sendratari Bedhayan Jumenengan akan dilakukan Tim Sendratari Dindikbupora Purworejo,” jelasnya.

Eko juga menyatakan, kegiatan itu akan lebih baik dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Setelah penyelenggaraan diambil alih pemkab dari pihak keluarga besar, pemkab berupaya menampilkan kegiatan itu lebih baik.

“Pokoknya kami berusaha meningkatkan kualitas peringatan jumenengan dari tahun ke tahun,” kata Eko.(cr2/hes/ong)