SETIAKY/RADAR JOGJA
DICIDUK: BD (dua dari kanan) yang diduga pelaku pencabulan anak-anak TK saat dijemput aparat Polres Sleman dari rumahnya, kemarin sore (26/2).
SLEMAN – Seorang bocah perempuan berusia empat tahun diduga mengalami pencabulan dan pelecehan seksual yang dilakukan di sekolah TK di daerah Jalan Kaliurang, Sleman. Peristiwa itu sudah terjadi satu bulan lalu, namun pelaku belum ditetapkan tersangka.

Orang tua korban pencabulan mengatakan, peristiwa ini terjadi 11 Januari 2016. Kejadian terungkap ketika anaknya mengalami demam pada 12 Januari. “Pada tanggal 13 Januari anak saya tidak masuk sekolah karena demam. Di rumah anak saya mengeluh sakit bagian anusnya saat BAB,” kata AR, 35, saat ditemui Radar Jogja kemarin (26/2).

Korban lalu bercerita pada ibunya jika anusnya ditusuk oleh suami dari kepala sekolah berinisial BD dengan jari tangan di dalam ruangan yang aman dan terkunci. Dari keterangan korban, dia ditusuk oleh pelaku di dapur dan di kamar mandi.

Tidak hanya itu, korban juga mengaku ditusuk dengan jari pada kemaluannya oleh BD. “Anak saya sudah teriak, tapi tidak didengar. Setelah itu kami visum dan hasilnya membuat kami menangis,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, pihak keluarga pun melapor ke Polres Sleman. Sayangnya, setelah satu bulan berlalu, belum ada juga respons dari pihak kepolisian.

Sementara itu, Kapolres Sleman AKBP Yulianto saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan itu. Pihaknya sudah menerima laporan tersebut dan sedang melakukan pengembangan. “Sedang kami kembangkan, tunggu saja nanti,” katanya, singkat.

Korban pencabulan anak-anak di salah satu TK di Jalan Kaliurang, Sleman, ini tidak hanya satu orang saja. Diperkirakan ada tiga korban lainnya yang juga dicabuli BD, suami kepala sekolah tersebut.

AR mengatakan, setelah anaknya demam dan mengaku jika dicabuli oleh BD, dia mencari tahu apakah ada korban lainnya atau tidak. Setelah menemui beberapa orang tua wali, diketahui ada empat anak yang mendapat perlakukan serupa. “Ada empat dengan anak saya. Kami sudah berkoordinasi, ada juga yang sudah visum,” ungkapnya.

Sejak kejadian pencabulan pada 11 dan 12 Januari, korban kini tidak lagi sekolah. Bapak dan ibu korban tidak ingin anaknya kembali lagi ke sekolah tersebut.

“Tapi anak saya itu tanya terus, kenapa nggak sekolah, pengen ke sekolah, nggak ada teman di rumah. Ini yang membuat saya bingung. Harus menjelaskan apa ke anak saya, dia baru empat tahun usianya, tidak tahu kalau dia sudah dicabuli,” ungkapnya.

Keluarga sudah melaporkan kejadian ini ke Polres Sleman, LSM dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sleman namun belum ada tindak lanjut. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menemui wartawan, agar kasus ini bisa terungkap.

“Kami bingung, kami khawatir kalau kasus ini ter-blowup, kami malu anak kami menjadi korban. Apalagi nanti kalau anak kami sudah dewasa membaca berita dulu dia pernah dicabuli, akan mempengaruhi psikologisnya,” tuturnya.

Saat Radar Jogja mencoba mengkonfirmasi ke lokasi sekolah yang berdempetan dengan rumah terlapor, polisi dari Polres Sleman menjemput diduga pelaku pencabulan empat anak tersebut, Jumat (26/2) sore. Saat menjemput, polisi sempat menunggu lama di TK tersebut sekitar satu jam.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman Aiptu Eko Mei yang datang langsung ke TK mengatakan, pihaknya datang untuk menjemput BD yang dilaporkan orang tua korban karena pencabulan.

Setelah polisi dipersilakan masuk ke rumah BD, setengah jam kemudian polisi keluar bersama BD. Saat dibawa bersama petugas kepolisian, BD tampak menggunakan baju koko dan mengenakan kopiah dan langsung dibawa ke dalam mobil polisi warna merah untuk dibawa ke Polres Sleman.

Saat ditanyai wartawan, Eko enggan memberikan keterangan apakah yang dilakukan polisi adalah penangkapan atau bukan. “Bukan penangkapan, nanti saja di Polres,” katanya singkat.

Dikonfirmasi kembali melalui sambungan telepon terkait penjemputan BD, Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengatakan pihaknya masih menunggu laporan dari pemeriksaan BD oleh PPA Polres Sleman. “Sebelumnya memang belum diperiksa, nanti saja kalau sudah ada pemeriksaan,” tambahnya.

Sedangkan Kepala Sekolah TK itu menolak untuk memberikan komentar kepada wartawan. “Maaf, saya tidak bersedia,” katanya singkat. (riz/laz/ong)