DWI AGUS/Radar Jogja

Selamatkan Enam Anjal, Selalu Berbagi saat Susah

Mengenang sosok almarhum Wardi Bajang, orang-orang terdekatnya menggelar pameran khusus. Bertajuk Terima Kasih Tanpa Batas, karya-karya Wardi semasa hidup pun dipamerkan. Tembok ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) menjadi saksi keindahan karya-karya Wardi.

DWI AGUS, Jogja

BBY kembali riuh oleh para seniman. Namun ada yang berbeda dalam pameran kali ini. Pameran yang menyajikan karya lukis dan patung ini untuk mengenang sosok Wardi Bajang. Seniman yang meninggal akibat kecelakaan berkendara pada November 2015.

Meski sang seniman tak berada di BBY, semangatnya tetap terlihat. Para sahabatnya sangat bersemangat menghadirkan karya-karya Wardi. Bahkan istrinya, Dyah Sundari, 40, turut hadir bersama kedua buah hatinya, Ariel Ahimsa Sastra, 12, dan Aurelia Putri, 8.

Sundari, sapaannya, mengaku bangga atas kiprah suaminya semasa hidup. Baginya, Wardi tidak hanya seorang seniman. Meski berpenampilan urakan, pemilik nama asli Suwardiono ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Mas Wardi itu jiwa sosialnya sangat tinggi, bahkan meski kehidupan ekonomi kita pas-pasan tapi tetap wajib membantu orang. Salah satu yang paling saya kenang adalah ketika ia menyelematkan enam anak jalanan (anjal) di daerah perempatan UPN tahun 2014,” kenang Sundari, di sela-sela pameran, Sabtu (20/2).

Pada waktu itu sedang diadakan razia anak jalanan oleh pihak berwajib. Dengan sigap Wardi menyelamatkan anak jalanan yang berlarian. Tak tanggung-tanggung, keenam anak jalanan ini disembunyikan di rumahnya, daerah Seturan, Sleman.

Tidak hanya satu atau dua hari, keenam anjal ini hidup bersama Wardi dan keluarganya selama 1,5 tahun. Bukan hal mudah, terutama kala itu Wardi telah berkeluarga. Belum lagi penolakan juga datang dari anggota Sanggar Coret yang juga bermarkas di kediaman Wardi.

“Mas Wardi nanting anak-anak jalanan ini agar mau hidup layak. Bahkan sampai mencarikan pekerjaan untuk mereka. Kalau mereka mau hidup layak maka diarahkan, kalau tidak dipersilakan untuk pergi,” kata Sundari.

Satu hal yang paling diingat dari Wardi adalah keinginannya untuk membantu orang. Meski dalam kondisi kekurangan sekalipun, menolong adalah sebuah kewajiban. Sundari mengenang Wardi percaya bahwa setiap perbuatan baik pasti akan ada hikmahnya.

“Mas Wardi selalu bilang kalau kita berbagi sama orang di saat kita kekurangan, akan punya kekuatan yang lebih daripada berlebihan tapi tidak membantu. Jangan takut tidak bisa makan, karena pasti ada rezeki setiap harinya,” kenangnya.

Mengenang masa indah, perkenalan Sundari dengan Wardi sudah berawal sejak bangku SMA. Keduanya pada waktu itu bersekolah di sekolah yang sama, SMA Bhinneka. Setelah lulus tahun 1995, mereka tidak pernah bertemu.

Tahun 2002 pun menjadi titik balik bagi keduanya. Tepatnya pada tanggal 2 Mei ketika Wardi menyelenggarakan sebuah acara. Bertepatan dengan Hari Pendidikan, keduanya bertemu kembali. Kala itu Wardi dan teman-temannya membentangkan bendera Merah Putih sepanjang Monumen Jogja Kembali hingga Tugu Pal Putih.

“Hingga akhirnya pada 24 Juli 2002 kami memutuskan untuk menikah. Jika pertama melihat, Mas Wardi memang kesannya sangar, tapi hatinya baik. Meski hidup pas-pasan, saya sangat nyaman dengannya,” kata Sundari.

Kepada anak-anaknya,Wardi pun selalu memberikan pesan yang baik. Selalu menjadikan dirinya sebagai panutan yang bukan untuk ditiru. Artinya melihat masa lalu dan pergaulan Wardi, berpesan agar anak-anaknya menjadi sosok yang lebih baik.

Wardi tak pernah melarang kedua anaknya bergaul. Justru membuka tangan kepada siapa pun saja. Meski tetap menyisipkan pesan, jika bergaul dengan anak nakal bukan berarti jadi anak nakal. Termasuk kepedulian terhadap lingkungan sosial dan alam.

“Mengajarkan anak untuk selalu hormat kepada orangtua. Selalu menjadikan dirinya sebagai contoh, agar menjadi orang yang lebih dari dari Mas Wardi. Di lingkungan Mas Wardi juga vokal, ikut bersuara tidak hanya dalam aksi tapi juga menuangkan ke dalam karya seninya,” kata Sundari.

Sementara untuk pameran tunggal yang berlangsung hingga 26 Februari itu menyajikan sekitar 20-an karya Wardi Bajang. Mulai dari seni lukis hingga karya instalasi dan patung. Pameran diadakan atas rembugan bersama dari beberapa komunitas kesenian dan teman-teman seniman.

Salah seorang penyelenggara pameran, Petro Beni, menilai sosok Wardi Bajang sangatlah njawani. Meski secara penampilan terlihat gaya seniman jalanan, jiwanya tak bisa dipisahkan dari kejawaannya. Ini terlihat dari tutur kata hingga cara pergaulannya terhadap teman-temannya.

“Wardi Bajang memang pemuja kemerdekaan berkarya, sehingga kesannya liar, garang, hantam dengan semua material yang ia temukan. Tapi terlepas itu semua, ia sangat memegang teguh norma-norma Jawa. Unggah-ungguh, santun dan tata bahasa krama inggil-nya selalu dipakai untuk alat komunikasinya,” kata Petro.

Petro menilai karya-karya Wardi sering bersentuhan tentang keadilan dan rasa nasionalis tinggi. Teriakan-teriakan jiwa dalam kanvasnya tak dibiarkan berjalan sendiri. Wardi Bajang memasang kayu, besi , kawat dan sebagainya bukan tanpa alasan dan dasar konvensi.

“Meski begitu karya beliau tidak lepas dari jasa-jasa ilmu kesenian dan estetika. Tema Terima Kasih Tanpa Batas sendiri adalah sebuah kalimat yang sering terlontar dari Wardi Bajang kepada teman-temannya saat berdialog. Pameran ini merupakan mimpi beliau untuk bisa berpameran tunggal di BBY,” ungkapnya. (laz/ong)