DWI AGUS/Radar Jogja
EKSPRESI: Sri Astari Rasjid menemai GKR Hemas saat pembukaan pameran retrospektif bertajuk Yang Terhormat Ibu di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM yang dibuka Sabtu malam (27/2).
SLEMAN- Kiprah seni Astari Rasjid terangkum dalam pameran retrospektif bertajuk Yang Terhormat Ibu di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM yang dibuka Sabtu malam (27/2).

Pembukaan pameran diawali tarian Bedhaya Kontemporer berjudul Garba. Sri Astari Rasjid sengaja menghadirkan tarian karyanya yang dikoreografi Retno Sulistyorini. “Garba itu artinya pintu yang dalam, bisa juga perut ibu. Semua kehidupan berawal dari perut ibu. Ini adalah titik awal dari kehadiran manusia di bumi,” jelasnya.

Pameran ini melihat jejak rekam Astari selama 30 tahun ini. Yakni aktivitasnya berkarya dalam berbagai lintas disiplin ilmu seni. Ketertarikannya untuk menggelar pameran ini adalah dasar pemikirannya tentang seorang ibu.Menurutnya ibu tidak hanya memiliki makna harafiah sosok yang melahirkan manusia. Baginya ibu memiliki makna yang lebih luas, seperti ibu pertiwi atau alam. “Sehingga kita tidak bisa melupakan begitu saja peran seorang ibu. Baik itu sebagai anak maupun sebagai manusia,” kata seniman kelahiran 26 Maret 1953 ini.

Keinginan untuk berpameran sejatinya sejak awal tahun 2015. Namun, keinginan ini terhambat ketika ditunjuk menjadi duta besar di sejumlah negara. Tugas besar ini melengkapi peran politiknya. Mulai dari Duta Besar di Republik Bulgaria tahun ini hingga merangkap Duta Besar Republik Albania dan Republik Makedonia. Meski mundur satu tahun namun Astari tidak kecewa. Justru dirinya bersyukur karena jabatan yang diembannya, membantu misi berkeseniannya. “Karena misi saya untuk mengenalkan budaya Indonesia justru terbantu. Saya usung karya saya dan kenalkan di daerah tempat saya bekerja,” ungkapnya.

Dipameran ini Astari menghadirkan beragam jenis karyanya. Mulai lukisan, fotografi, patung hingga seni instalasi. Sebagian dari karya-karyanya ini pernah dipamerkan di berbagai belahan dunia. Sebut saja Hongkong, Washington, New York, Moskow, Madrid, London, Paris, Beijing, Venezia Biennale, dan lain-lain.

Bahkan dalam beberapa kesempatan Astari juga memenangi beberapa kompetisi. Mulai dari Nokia Arts Award, Phillip Morris Arts Award dan Winsor and Newton Award. Selama dilantik menjadi Duta Besar di tiga negara, Astari pun berumah di Sofia.

Astari adalah Duta Besar perempuan pertama yang berlatar belakang seniman profesional. Selama karirnya sebagai seniman Astari banyak mengembangkan bentuk-bentuk simbolik Jawa.

“Berkaitan dengan unsur dasar yang dimiliki setiap individu, yaitu daya maskulin dan feminin. Dua potensi daya atau energi yang dimiliki setiap individu dan dapat tumbuh atau berkembang sesuai dengan konteks sosio historis yang berbeda-beda,” ungkap perempuan yang memiliki trah Mangkunegaran ini.

Astari menjelaskan dua daya tersebut tak semata-mata merujuk pada jenis kelamin. Menurutnya setiap jenis kelamin memiliki potensi masing-masing. Munculnya dominan salah satu gender bisa berawal dari karakteristik budaya tempat si manusia hidup.

Secara spesifik dirinya sangat terinpirasi budaya Jawa. Di mana selama ini dirinya budaya sangat kuat membangun karakter dirinya. Bahkan dalam keluarganya, kultur Jawa sangatlah kuat bahkan menonjol. “Kultur Jawa itu inspirasi saya dalam berkarya. Saya memandang Jawa sebagai rahim kultural di mana saya lahir. Meski saya menjelajah tapi selalu menjadikan Jawa sebagai tujuan saya pulang,” katanya.

Sementara untuk memahami daya feminin dan maskulin, Astari memiliki konsepnya sendiri. Dirinya merasa tertarik pada garis pertemuan antara daya feminin dan maskulin. Di mana dalam sudut pandang ini hubungan antara dua daya tersebut tidak selalu mutlak dan permanen.

Beberapa tokoh hadir di pembukaan pameran ini. Antara lain Surya Paloh, GKR Hemas, Eros Jarot, Maxi Gunawan, Jan Darmadi, Romo Mudji Sutrisno, Siti Hediati Hariyadi dan tokoh lainnya.

Menurut GKR Hemas, karya Astari tidak hanya berbicara tentang seni. Lebih dalam esensi tentang ke-Jawaan terasa begitu kental. Bahkan keinginan Astari menghargai peran seorang ibu diapresasi oleh GKR Hemas.

Menurutnya, pameran ini menunjukkan The Power of Mother. Yakni menempatkan sosok ibu sebagai sumber kehidupan. Mulai dari cara pandang pentingnya sosok ibu yang kental dalam budaya Jawa hingga dalam alam.(dwi/din/ong)