Hendri Utomo/Radar Jogja
PEKA: Tukiyem, 90, warga Pedukuhan V, Desa Depok, Kecamatan Panjatan ditemui Wabub Kulonprogo Sutedjo sebelum rumahnya diperbaiki melalui program bedah rumah.

Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri sampai Mati

Kepekaan sosial akan terlihat samar, jika muncul berbalut kepentingan. Sebaliknya, akan terlihat jelas, jika muncul secara natural tanpa paksaan. Di Kulonprogo, kegiatan bernama program bedah rumah memiliki dua sisi kearifan hidup manusia. Yakni manusia sosial sekaligus berbudaya.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

Sesuai kodratnya, manusia makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat. Manusia selalu hidup bersama manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir selalu menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Karena dengan sendirinya manusia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.

Tanpa bantuan orang lain, manusia tak mungkin berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangannya, berkomunikasi atau bicara dengan mulutnya, dan mengembangkan potensi kemanusiaannya.

Manusia dikatakan makhluk sosial, karena tunduk aturan dan norma sosial. Segala perilakunya mengharapkan penilaian dari orang lain, memiliki kebutuhan berinteraksi dengan orang lain, dan potensi manusia berkembang bila manusia hidup di tengah-tengah manusia atau masyarakat.

Manusia juga makhluk budaya, sebagai makhluk berbudaya, ia senantiasa mendayagunakan akal budinya menciptakan kebahagiaan. Sementara yang membahagiakan hidup manusia adalah sesuatu yang baik, benar, dan adil. Definisi manusia sosial dan berbudaya cukup lekat dengan program bedah rumah di Kulonprogo.

Tak hanya didasarkan pada uang saja kegiatan tersebut berjalan, namun sikap gotong royong antarwarga yang terbina, membuat kegiatan berjalan hingga sekarang. Pemerintah daerah menjadi mudah bergerak. Karena masyarakat peduli dengan tetangganya yang kekurangan, tak harus berujud uang untuk membantu, ada kayu disumbangkan. Bahkan jika hanya memiliki tenaga, ia berikan untuk menolong sesama.

Minggu (28/2), rumah Tukiyem, 90, warga Pedukuhan V, Desa Depok, Kecamatan Panjatan jadi saksi kehebatan manusia sosial dan berbudaya tersebut.

“Rumah Mbah Tukiyem kurang lebih 2,5 x 3 meter persegi, ia tinggal seorang sendiri dan membutuhkan bantuan,” ungkap Kepala Desa Depok Sumiatin, di sela bedah rumah.

Ia meneruskan, sudah lama pihak desa menawarkan pada Mbah Tukiyem mengikuti program bedah rumah. Namun ia “mboten kerso” alias tidak mau. Baru sekaranglah ia mau menerima bantuan.

“Rumahnya sangat sempit. Padahal ia butuh tidur dan beraktivitas lain di dalam rumah tersebut. Saya berterimakasih pada pemerintah kabupaten yang peduli dengan warga kami,” imbuh Sumiatin.

Rumah Mbah akhirnya dibedah dengan bantuan dari BAZNAS Kabupaten Kulonprogo sebesar Rp 10 juta. Rumah Mbah Tukiyem dibuat dengan ukuran lebih lega, yakni 6 x 6 meter persegi. Peletakan batu pertama dilakukan Wakil Bupati Kulon Progo Drs H Sutedjo.

Sutedjo menyatakan, Mbah Tukiyem berhak menatap kehidupan walau berusia lanjut. Karena hakekat kidup bermasyarakat itu harus saling peduli pada sesama. Manusia tak bisa hidup sendirian dan segala sesuatu hingga akhir hayatnya tak bisa dikerjakan sendirian. Sudah sepantasnya sebagai manusia harus bekerja sama dan bergotong royong.

“Tradisi saling bantu dan peduli ini harus dilestarikan selamanya dalam kehidupan bermasyarakat,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, juga diserahkan bantuan bedah rumah sebesar Rp 5 juta dari forum Corporate Social Responsibility (CSR) atau forum Kepedulian Sosial Kabupaten Kulonprogo pada Sumarni, warga Pedukuhan V, Desa Bojong, Kecamatan Panjatan.

Donatur lain yang menyerahkan bantuan dalam bedah rumah tersebut adalah Bank Pasar, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDPKB), dan BAZCAM Panjatan.

Wabub Sutedjo juga memimpin bedah rumah milik Malik, 45, warga Setro RT 30/RW 09, Desa Kulur, Kecamatan Temon. Malik sehari-hari bekerja sebagai penjual bakso keliling. Malik mendapat bantuan Rp 10 juta dari Desa Sejahtera Mandiri (DSM).

Kepala Dusun Setro Sumarno menambahkan, dari 131 kepala keluarga (KK) di wilayahnya, ada 12 KK warga yang tinggal di rumah belum layak huni. Namun, ia sudah mengusulkan untuk dibangun lewat program bedah rumah dan sekarang baru dalam proses.

“10 KK sudah mendapat bantuan sebelumnya. Pelaksanaan pembangunannya sekarang mencapai 90 persen,” terangnya.

Sudah ratusan rumah tidak layak huni di Kulonprogo yang diperbaiki jadi layak huni melalui program bedah rumah. Program bedah rumah dilakukan setiap minggu. Semua tak selalu bergantung pemerintah pusat. Program ini berjalan dengan baik atas dasar kepedulian, kepekaan sosial, dan budaya gotong royong yang lekat di masyarakat Kulonprogo.(hes/ong)