GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERSIH-BERSIH: Para jukir Malioboro melakukan aksi bersih-bersih lingkungan Malioboro, Minggu (28/2). Aksi yang dibantu BEM KM UGM tersebut juga menjadi penanda sikap para jukir agar relokasi ke Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) mengedepankan sisi humanis.
JOGJA – Penolakan dan tuntutan juru parkir (jukir) Malioboro tak serta merta membuat Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ goyah. Penataan Malioboro tetap berjalan terus. Kini, pemkot tengah mencari solusi terbaik.

“Kami tetap jalan terus untuk sosialisasi dan pendekatan. Apalagi, itu (sosialisasi) sudah menjadi wewenang pemkot,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja Eko Suryo Maharso, kemarin (28/2).

Dia menambahkan, pro dan kontra merupakan hal yang lumrah. Terlebih, penataan Malioboro menyangkut banyak hajat hidup. Yang perlu mereka lakukan, saat ini berupa pendekatan dengan lebih humanis. “Sesuai dengan tujuannya, penataan untuk kehidupan lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, jika ada penolakan itu karena sejumlah hal. Misalnya saja, karena belum tahu tujuan sebenarnya mengenai penataan. Juga, masyarakat yang khawatir ada risiko kehilangan pendapatan.

“Ini yang terus kami pikirkan. Komunikasi juga semakin intensif. Baik dengan pelaku di sana dan Pemprov DIJ,” tandas mantan Asisten Sekretaris Kota (Assekkot) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian ini.

Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra menegaskan, tuntutan jukir hanya ingin tetap sejahtera. Jika direlokasi, itu harus bisa menampung semuanya. “Kalau kurang saja satu jukir yang tidak terfasilitasi, kami kompak menolak,” katanya.

Jukir Malioboro, lanjut Sigit, masih belum bisa menerima skema dari pemkot. Ini karena, tak semua jukir terfasilitasi. Padahal, jumlah jukir di Malioboro ada 221. “Semua harus sejahtera bersama. Itu tekad kami,” ujarnya.

Penolakan jukir ini ternyata menarik perhatian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM. Mereka kemarin pagi menggelar kerja bakti di ikon pariwisata Kota Jogja itu. Sekaligus, untuk mendampingi jukir.

Menteri Koordinator Kemasyarakatan BEM KM UGM Yusuf Cahyamahardika mengatakan, pihaknya mendorong relokasi jukir ini mengedepankan pendekatan humanis. Tidak semata-mata untuk memperindah Malioboro sebagai pedestrian. “Nasib kehidupan keluarga 221 jukir prioritas untuk dipikirkan,” tandasnya. (eri/ila/ong)