GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BANTUL – Ada banyak cara untuk meningkatkan kepedulian terhadap sampah. Seperti yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bantul bekerja sama dengan salah satu elemen masyarakat, kemarin (28/2). Kampanye yang terpusat di Lapangan Paseban ini didesain berbeda. Tak sekadar pameran produk daur ulang sampah, juga kirab budaya. Uniknya, pakaian para peserta kirab dibalut beragam aksesori dari produk olahan sampah.

Kampanye bertajuk Pameran Festival dan Kirab Budaya Produk Daur Ulang Sampah melibatkan 600 peserta. Mereka dari 13 kelompok, mulai siswa TK, SD, Miss Bantul, Karang Taruna, dan kelompok pegiat sampah. Kirab budaya mengambil start di simpang empat Klodran dan finish di Lapangan Paseban.

Koordinator Kirab Bayu Kuntani mengatakan, event ini bertujuan mempromosikan sampah. Dengan harapan mindset masyarakat berubah. Sampah tak lagi menjadi barang yang harus dibuang. Melainkan bisa dikelola karena memiliki nilai ekonomi.

“Pesan yang ingin kami sampaikan sampah bisa menjadi uang. Dengan harapan masyarakat tertarik untuk mengelola sampah,” terang Bayu di sela acara.

Menurutnya, acara ini baru kali pertama digelar. Selain kirab budaya, ada 25 pegiat peduli sampah yang ambil bagian. Mereka memamerkan produk-produk daur ulang sampah di stan-stan yang disediakan. “Tahun depan akan kami kembangkan lagi,” ujarnya.

Kepala BLH Bantul Eddy Susanto menyatakan, penyelenggaraan acara ini sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Melalui acara ini, dia berharap kesadaran memanajemen sampah kian meningkat. Agar volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir menurun.

Eddy menyebutkan, setiap warga Bantul setiap harinya menghasilkan sampah 0,625 kilogram. Dia tidak membayangkan berapa jumlah volume sampah yang dihasilkan seluruh penduduk Bantul. Sebab, jumlah penduduk warga Bantul saat ini mencapai 919.440 jiwa.

“Kalau tidak dikelola, sampah bisa merusak lingkungan. Apalagi, sampah plastik,” ungkapnya.

Menurutnya, BLH telah berupaya mengurangi volume sampah. Salah satu caranya dengan membentuk jaringan pengelolaan sampah mandiri (JPSM). Ada 126 JPSM yang tersebar di seluruh Bantul saat ini.

Nah, di tangan JPSM inilah beragam jenis sampah didaur ulang menjadi produk-produk bernilai ekonomi. “Ada yang diolah menjadi tas, dompet, dan pernak-pernik lainnya. Kemudian dijual,” ungkapnya.

Salah satu pegiat sampah Sarti Gunawan tak membantah, jika dikatakan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah masih rendah. Itu tampak dari pengalamannya mengumpulkan sampah-sampah plastik sachet dari penjual angkringan. “Sebagian menolak mengumpulkan sampah plastik mereka karena banyak semutnya,” ucapnya.

Ya, sejak 2010 Sarti bersama suaminya mendaur ulang sampah-sampah plastik menjadi beragam produk. Seperti tas, dompet, lampion, hingga tirai. Sampah-sampah plastik ini dia peroleh dari penjual angkringan di sekitar rumahnya. Dengan usaha sampingannya ini, perempuan dari Srandakan ini memperoleh tambahan pemasukan Rp 1,5 juta per bulan. “Dijual online. Bahkan, tak sedikit orang Malaysia yang membelinya,” tuturnya. (zam/ila/ong)