JOGJA – Muda, dinamis, dan penuh kemampuan. Itulah gambaran sosok pemimpin Kota Jogja ke depan. Setidaknya itulah yang didambakan oleh Ketua DPW PPP DIJ Syukri Fadholi. Bahkan dia menolak untuk dicalonkan sebagai calon Wali Kota Jogja pada pilwali tahun depan.

Syukri menginginkan ke depannya Kota Jogja dipimpin oleh anak muda. PPP mulai menginventaris calon Wali Kota Jogja yang akan diajukan pada Pilwali Kota Jogja Februari 2017 nanti. “Saya sendiri sudah tua, sudah seharusnya wali kota Jogja nanti menampilkan sosok anak muda yang dinamis dan penuh kemampuan,” ujar Syukri ketika ditemui di Kantor DPW PPP DIJ akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, sudah saatnya meninggalkan gelanggang politik untuk digantikan anak muda. Mantan Wakil Wali Kota Jogja tersebut mengatakan, hingga saat ini PPP belum membicarakan calon. Tapi, sudah menyiapkan kriteria wali kota yang diusung.

Selain harus muda, juga merupakan sosok yang memiliki komitmen pengabdian dan kerakyatan. Terpenting memiliki komitmen membangun Jogja, punya komitmen menjaga moral, dan hukum dengan baik. “Serta menjaga marwah kehidupan kota yang religius dan berpihak pada ekonomi kerakyatan,” pesannya.

Penekanan pada ekonomi kerakyatan, jelas dia, karena selama ini Pemkot Jogja hanya berpihak pada kalangan ekonomi atas. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pendirian hotel. Selain itu, lanjut Syukri, yang juga harus diperhatikan tentang kecenderungan perilaku kehidupan warga Jogja yang bertentangan dengan nilai-nilai etika.

“Kecenderungan seperti itu sudah mulai kita rasakan, kebijakan pemerintah ke depan harus bisa membentengi hal itu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPC PPP Kota Jogja Fachrudin mengaku di internal sudah melakukan koordinasi. Pihaknya juga sudah menginventarisasi beberapa tokoh yang akan diajukan. Mulai dari profesional, birokrat hingga seniman. Sayangnya, Fachrudin belum mau menyebut nama.

Tapi untuk politisi, nama Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono dan Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto masuk dalam perhitungan. “Dari internal PPP sendiri juga ada beberapa nama yang dijagokan, termasuk Pak Syukri,” ungkapnya.

Dalam Pilwali Kota Jogja nanti, PPP juga tidak akan memaksakan calonnya menjadi wali kota. Hal itu karena perolehan kursi di DPRD Kota Jogja hanya empat atau baru sekitar 10 persen. Perlu koalisi dengan partai lain untuk mengusung calon.

“Yang jelas pemimpin Kota Jogja ke depan harus bisa mengembalikan Jogja sebagai kota wisata, pendidikan, dan budaya yang religius,” ujarnya. (pra/ila/ong)