Agung Budi/Radar Jogja
BEDHAYAN : Penari Bedhayan Jumenengan menunjukan penampilannya dalam Peringatan Jumenengan Cokronegoro I ke-185 sebagai Bupati Puworejo di pendopo rumah dinas bupati, Sabtu (27/2) malam.
PURWOREJO – Tujuh penari cantik pelaku Sendratari Bedhayan Jumenengan menutup Peringatan Jumenengan Raden Adipati Aryo (RAA) Cokronegoro I ke-185 sebagai bupati pertama Purworejo. Mereka melempar bunga mawar
dan mewarnai panggung pertunjukan di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Sabtu malam (27/2).

Permainan cahaya dari lampu yang dipasang di berbagai sudut pendopo mendukung dan menciptakan suasana sakral dalam peringatan yang diadakan ketiga kalinya tersebut. Aplaus panjang dari 300 tamu undangan langsung mengiringi penari turun panggung dan memasuki rumah dinas bupati.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Purworejo Agus Bastian, Wakil Bupati Yuli Hastuti, wakil ketua DPRD, Sekda Tri Handoyo, Wakapolres Sumaryono, jajaran SKPD, dan tamu undangan.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemudan dan Olahraga Purworejo Muh Wuryanto, mengisahkan, setelah perang Diponegoro, Cokronegoro mendapat hadiah dari Kasunanan Surakarta untuk memimpin Kadipaten Brengkelan yang kelak berubah jadi Kabupaten Purworejo.

“Banyak pusaka yang ditinggalkan Cokronegoro I untuk Purworejo. Seperti halnya Masjid Agung, pendopo kabupaten, alun-alun, Sungai Kedungputri, Jalan Purworejo-Magelang, dan Bedug Agung Kyai Pendowo yang menjadi bedug paling besar di Indonesia,” ungkap Wuryanto.

Boedi Sardjono, perwakilan Trah Keluarga Besar Cokronegoro I mengatakan, banyak keteladanan yang diturunkan pada masyarakat Purworejo. Seperti sifat luhur dan contoh budi pekerti.

“Laku beliau adalah mewujudkan ketentraman dan kesejahteraan Purworejo,” ungkap Boedi.

Apresiasi yang tinggi diberikan trah keluarga pada pemkab yang menggelar peringatan jumenengan. Mereka berharap kegiatan tersebut bisa rutin setiap tahun.

“Kami berharap, kegiatan tersebut tidak saja disengkuyung pemerintah, tapi masyarakat juga mendukung,” harap Boedi.

Bentuk dukungan yang diberikan, lanjut Boedi, adalah menambah kegiatan jumenengan dan melengkapinya dengan kirab budaya dan melibatkan seluruh elemen hingga unsur rukun tetangga (RT) di Purworejo.

“Hal lain, semakin banyaknya peziarah ke kompleks makam. Kami berterima kasih jalannya sudah diperbaiki. Kami harap lebih baik lagi, jika kanan kiri jalan juga dipercantik,” usul Boedi.

Sementara itu, Bupati Agus Bastian mengatakan adanya peringatan tersebut menumbuhkan semangat masyarakat membangun Purworejo lebih maju dan sejahtera.

“Kami semua tahu jasa Cokronegoro I untuk Purworejo tak sedikit dan tak bisa dilepaskan dari sejarah lokal. Banyak yang digunakan dan bermanfaat untuk Purworejo, sejak dulu hingga kini,” kata Bastian.

Jajaran pemerintahan, tegas Bastian, juga bisa mencontoh spirit membangun yang dilakukan Cokornegoro.

“Banyak peninggalan dari beliau adalah semangat mensejahterakan masyarakat. Ini harus jadi penyemangat membangun Purworejo selanjutnya,” imbuhnya.

Bastian juga menyingung event budaya peringatan sebagai penghormatan pada tokoh yang meletakkan dasar pembangunan Purworejo. Selanjutnya, harus dikemas menjadi konsep pariwisata yang mendatangkan wisatawan. Baik lokal maupun mancanegara.(cr2/hes/ong)