DWI AGUS/RADAR JOGJA
PURWARUPA: Aplikasi NoViolence yang dikembangkan dalam bentuk diary yang mampu mengukur tingkat kekerasan yang dialami seseorang. Aplikasi ini juga terhubung dengan LSM yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak.

Berbentuk Diary, Bisa Ukur Tingkat Kekerasan yang Dialami Korban

Kasus kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan setiap tahun. Sayangnya, angka laporan ke pihak berwenang justru kecil. Kemungkinan, karena korban enggan melaporkan. Berangkat dari situ mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA dan Fakultas Psikologi UGM mengembangkan aplikasi NoViolence. Seperti apa aplikasi berbasis android ini?
DWI AGUS, Sleman

ANGKA kekerasan terhadap perempuan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat sepanjang 2014 jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus.

Sayangnya, meski kasus terus meningkat, angka laporan justru kecil. Jumlah laporan ini berdasarkan angka laporan yang didapatkan dari pihak berwajib, lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun Komnas Perempuan. Penyebab utama minimnya laporan, diduga korban enggan atau takut untuk melapor.

Berangkat dari kasus ini, tiga mahasiswa UGM mengembangkan sebuah aplikasi, NoViolence. Aplikasi khusus ini diperuntukan bagi korban kekerasan pada perempuan. Ketiga mahasiswa itu adalah Alfian Tryputranto dan Farid Amin Ridwanto dari Ilmu Komputer FMIPA serta Ivoni Putri Pertiwi dari Fakultas Psikologi.

“Aplikasi ini dengan platform android. Memudahkan korban menceritakan kasus kekerasan yang dialaminya,” kata Farid ditemui di Ruang Fortagama UGM Jogjakarta belum lama ini.

Farid menjelaskan, aplikasi NoViolence saat ini masih berupa purwarupa. Konsep yang dikembangkan adalah untuk memfasilitasi dan memediatori permasalahan tindakan kekerasan yang dialami korban.

Aplikasi ini dikembangkan dalam bentuk diary. Di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan berbentuk kuesioner yang telah diadaptasi. Sehingga melalui aplikasi ini akan diukur seberapa tingkat kekerasan.

“Mengukur tingkat kekerasan yang dialami korban berdasarkan data-data hasil coding dari diary yang telah dituliskan pengguna,” ungkap Farid.

Alfian menambahkan, aplikasi ini bisa melakukan pengukuran kekerasan dan hasilnya berupa persentase serta level kekerasan yang terjadi. Aplikasi ini akan melakukan pop up otomatis jika persentase tingkat kekerasan melebihi angka 20 persen. Pop up konfirmasi ini secara otomatis akan terhubung ke LSM di daerah setempat.

“Selanjutnya pelapor dapat memilih pilihan Laporkan atau Tidak Laporkan,” tegasnya.

Mereka berharap, aplikasi NoViolence ini nantinya dapat membantu perempuan yang ingin melaporkan kekerasan yang dialami. Selain itu, juga mampu meningkatkan kesadaran melapor bagi para perempuan korban kekerasan.

“Saat ini kami tengah melakukan pengembangan lebih lanjut untuk pengembangan fitur-fitur di dalamnya. Target kami dalam beberapa bulan ke depan bisa segera rilis,” kata Alfian.

Berkat inovasi ini, NoViolence berhasil meraih penghargaan sebagai Best Concept dalam acara Hack Gov 2015 yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bapenas beberapa waktu lalu. (ila/ong)