GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JOGJA – Sudah tak bisa dipungkiri bagaimana pengaruh asing di Republik Indonesia tercinta. Itu ternyata tak lepas dari pola pikir generasi muda dan pejabat saat ini. Mereka sudah tak lagi memiliki jiwa patriotisme.

Kecintaan terhadap tanah air hanya sekadar slogan. Mereka tak berani mendobrak kemapanan pengaruh asing. “Yang penting dirinya senang, aman, kebutuhannya tercukupi. Tak lagi berani,” sesal Samdi, salah satu pelaku sejarah Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949, usai upacara peringatan di Monumen SO 1 Maret, kemarin (1/3).

Padahal, warisan dari generasi terdahulu yakni keberanian dan patriotisme. Itulah yang menjadi modal besar Indonesia bisa bebas dari penjajahan. Dulu perjuangan yang dilakukan, lanjutnya, masih secara fisik, angkat senjata. “Dan, kami bisa. Sekarang perjuangan sudah beda lagi, dengan teknologi, ekonomi dan lainnya. Generasi muda juga harus bisa,” pesannya.

Menurut Samdi, saat ini penjajahan masih terus berlangsung dengan banyak cara. Generasi penerus bangsa tidak boleh pasrah dan berdiam diri saat kekayaan negara terus diambil asing. “Lihat kebun sawit dikuasai asing. Sumber daya alam lainnya juga sama,” tegasnya.

Menjawab tantangan mengembalikan kedaulatan NKRI, kata Samdi, generasi muda harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan global. Teknologi dan ekonomi mutlak harus dikuasai agar negara ini tidak kembali dijajah asing.

Samdi menceritakan, malam hari sebelum serangan dilakukan, dia dan rekan-rekannya mendapat briefing di kawasan Godean. Serangan sendiri dilakukan sebagai bentuk show of force. Sekaligus untuk eksistensi bahwa pemerintahan Indonesia masih ada.

Ini dilakukan, karena Belanda membuat propaganda dengan menafikan keberadaan pemerintah Indonesia kala itu. Terbukti, serangan yang berlangsung dalam tempo enam jam berhasil membuka mata dunia internasional.

“Jadi generasi muda harus mewarisi jiwa patriotisme, harus berani. Jangan takut dengan orang asing. Peringatan seperti sekarang ini harus bisa membangkitkan rasa nasionalisme,” katanya.

Wali Kota Haryadi Suyuti yang berperan sebagai inspektur upacara mengatakan, serangan enam jam pada 1 Maret 1949 menjadi bukti kuat kemampuan strategi militer para pejuang. Serangan itu terbukti sanggup menyadarkan dunia internasional terhadap eksistensi Indonesia.

Dengan semangat yang sama, Haryadi mengajak masyarakat dan generasi muda menanamkan semangat Segoro Amarto (semangat gotong-royong agawe majune Ngayogyakarta) untuk berjuang bersama. Memerangi kemiskinan, keterbelakangan, dan bahaya narkoba yang sudah menjadi musuh bersama.

“Peringatan SO 1 Maret harus dilihat dengan arif dan bijaksana. Jangan hanya dimaknai sebagai romantisme sejarah dan seremonial belaka,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Program Studi Ilmu Sejarah Universitas PGRI Jogjakarta Darsono menuturkan, bicara mengenai sejarah SO 1 Maret tentu membuka ruang diskusi menuju banyak interpretasi yang bermuara dalam satu kejadian yang sama. Menurutnya, rekonstruksi sejarah tidak harus selalu tentang penggalian-penggalian kebenaran, namun bisa dalam bentuk lain yang lebih nyata. Termasuk implementasi langsung bagi masyarakat secara umum.

Darsono memberikan kritikannya terhadap budaya masyarakat yang terkadang melakukan perayaan atau selebrasi hari-hari bersejarah. “Banyak yang terkadang hanya terjebak di selebrasi tanpa bisa menyentuh makna dari agenda tersebut,” tuturnya.

Padahal, menurut Darsono, sudah seharusnya perayaan hari bersejarah bisa menjadi bagian dalam sebuah proses rekonstruksi sejarah yang bisa sangat berguna bagi kemajuan bangsa.

Darsono berujar, setidaknya masyarakat bisa mempelajari kembali nilai-nilai yang ada di masa itu untuk kemudian dipakai sesuai dengan tuntutan zaman.

“Hal itu sudah termasuk dalam sebuah proses rekonstruksi sejarah, bahkan lebih implementatif. Apalagi masyarakat kita termasuk masyarakat yang minim mengingat,” lanjutnya.

Di DIJ sendiri, beberapa kalangan masyarakat merayakan 67 tahun SO 1 Maret dengan berbagai cara. Salah satunya upacara peringatan 67 tahun SO 1 Maret yang diadakan oleh Paguyuban Wehrkreis III Jogjakarta di Plaza Monumen SO 1 Maret. (eri/mg3/ila/ong)