NGOTOT: Pengacara Honje Restaurant Petrus Bala Pattyoana menilai ada arogansi polisi dalam penggerebekan atas penjualan bir beberapa waktu lalu.
JOGJA –Aparat kepolisian dinilai telah melakukan arogansi. Kali ini terkait penggerebekan Honje Restaurant di Jalan Margo Utomo, Jogja, atas penjualan bir, beberapa waktu lalu. Diduga tindakan itu berawal dari penolakan pihak restoran buka lebih pagi, saat ada rombongan isteri pejabat polisi dari Polda Metro Jaya yang berjumlah sekitar 90 orang.

“Kami melaporkan adanya arogansi anggota kepolisian. Kami mendesak kepolisian untuk melakukan sidang etik dan memberikan sanksi atas tindakan tersebut. Apalagi, ada juga penyitaan minuman,” kata Pengacara Honje Restaunt, Petrus Bala Pattyoana, kemarin.

Dipaparkan kronologis arogansi yang berawal dari kedatangan tiga orang polisi, salah satunya bernama S.Tikno, pada Selasa (16/2) pukul 15.30. Mereka datang untuk meminta izin menggunakan restoran pada Rabu (17/2) pukul 09.00, untuk para isteri pejabat polisi yang akan berfoto di salah satu studia dekat Tugu.

“Tapi, karena pagi petugas tidak bisa menerima reservasi. Juga pemberitahuan yang mendadak tidak ada waktu untuk persiapan buka lebih awal,” tuturnya.

Dilanjutkan, meski menolak, polisi yang bernama S.Tikno tetap memaksa. Bahkan, ia sempat mengancam tak akan bertanggung jawab jika ada razia dari polisi dan ormas.

“Bapak S.Tikno ini datang sampai dua kali dan tetap memaksa. Kedatangan yang terakhir bersama dengan Bapak Sigit yang katanya atasan Bapak S.Tikno kalau tidak ikut bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa,” ungkapnya.

Kemudian, pada petang hari ini pukul 18.30, ada seorang polisi yang bernama Joko. Ia kembali menanyakan hal yang sama. Tapi, tetap saja, manajemen restauran tersebut menolak untuk membuka lebih awal.

Akhirnya, pada Rabu (17/2) pagi, sekitar pukul 08.30, tiba-tiba tanpa izin rombongan isteri polisi Polda Metro Jaya berjumlah tiga buah bus besar memaksa untuk masuk. Mereka datang dengan membawa makanan sendiri.

Malam harinya, pukul 21.30, ancaman S.Tikno itu ternyata benar. Polresta Jogja melakukan penggerebekan terhadap restaurant tersebut. Dari penggerebekan. Polisi pun mengamankan lima botol bir berbagai merek.

“Kami sudah melaporkan hal ini ke Irwasum Mabes Poldi, Kadiv Humas Mabes Polri, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Metro Jaya, Ketua Bhayangkari Polda Metro Jaya, dan Dirpropam Polda DIJ,” paparnya.

Dikonfiormasi, Kapolresta Jogja Kombes Prihartono EL menolak, jika penggerebekan itu dikaitkan dengan ancaman S.Tikno. Pihaknya melakukan penggerebekan saat itu bersama toko-toko lain.

“Hasilnya kami menemukan penjualan bir. Padal sesuai dengan Perda No 7 tahun 2006, restaurant tidak boleh menjual bir,” jelasnya.

Kapolresta menambahkan, polisi dalam menindak tersebut bersikap obyektif. Mereka tak mau dibilang tebang pilih hanya menggerebek warung-warung kecil.

“Nanti kalau tidak kami razia malah warung-warung kecil pada marah,” tandas perwira dua mawar di pundak ini. (eri/dem/ong)