Iwa Ikhwanudin/Radar Jogja
JOGJA-Kepolisian Resort Kota (Polresta) Jogja mengambil langkah saling mengutungkan, terhadap dugaan arogansi anggotanya di Honje Restaurant, beberapa waktu lalu. Kapolresta Jogja Kombes Prihartono EL memastikan, polisi dan manajemen restoran di selatan Tugu Pal Putih itu telah bersepakat untuk berdamaik. Bahkan mereka juga saling berjanji tidak akan memperpanjang masalah.

“Kami ingin membangun hubungan yang lebih baik. Baik manajemen dan kami sudah menutup permasalahan yang telah lalu (arogansi dan penggerebekan bir),” kata Prihartono, di Honje Restaurant, kemarin (3/3).

Sebelumnya, Pengacara Honje Restaunt Petrus Bala Pattyoana mengungkapkan, pihaknya sudah mengirimkan surat aduan soal arogansi ke beberapa pihak. Diantaranya, Irwasum Mabes Polri, Kadiv Humas Mabes Polri, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Metro Jaya, Ketua Bhayangkari Polda Metro Jaya, dan Dirpropam Polda DIJ.

“Kami melaporkan adanya arogansi anggota kepolisian. Kami mendesak kepolisian untuk melakukan sidang etik dan memberikan sanksi atas tindakan tersebut. Apalagi, ada juga penyitaan minuman,” tuturnya.

Kronologis arogansi yang berawal dari kedatangan tiga orang polisi, salah satunya bernama S.Tikno, pada Selasa (16/2) pukul 15.30. Mereka datang untuk meminta izin menggunakan restoran pada Rabu (17/2) pukul 09.00, untuk para isteri pejabat polisi yang akan berfoto di salah satu studio dekat Tugu.

“Tapi, karena pagi petugas tidak bisa menerima reservasi. Juga pemberitahuan yang mendadak tidak ada waktu untuk persiapan buka lebih awal,” tuturnya.

Meski pihak restoran menolak, polisi yang bernama S.Tikno tetap memaksa. Bahkan, ia sempat mengancam tak akan bertanggung jawab jika ada razia dari polisi dan ormas.

“Bapak S.Tikno ini datang sampai dua kali dan tetap memaksa. Kedatangan yang terakhir bersama dengan Bapak Sigit yang katanya atasan Bapak S.Tikno kalau tidak ikut bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa,” ungkapnya.

Kemudian, pada petang hari ini pukul 18.30, ada seorang polisi yang bernama Joko. Ia kembali menanyakan hal yang sama. Tapi, tetap saja, manajemen restoran tersebut menolak untuk membuka lebih awal.

Akhirnya, pada Rabu (17/2) pagi, sekitar pukul 08.30, tiba-tiba tanpa izin rombongan isteri polisi Polda Metro Jaya berjumlah tiga buah bus besar memaksa untuk masuk. Mereka datang dengan membawa makanan sendiri.

Malam harinya, pukul 21.30, ancaman S.Tikno itu ternyata benar. Polresta Jogja melakukan penggerebekan terhadap restoran tersebut. Dari penggerebekan, Polisi mengamankan lima botol beer berbagai merek. (eri/dem)

Kemudian, pada petang hari ini pukul 18.30, ada seorang polisi yang bernama Joko. Ia kembali menanyakan hal yang sama. Tapi, tetap saja, manajemen restoran tersebut menolak untuk membuka lebih awal.

Akhirnya, pada Rabu (17/2) pagi, sekitar pukul 08.30, tiba-tiba tanpa izin rombongan isteri polisi Polda Metro Jaya berjumlah tiga buah bus besar memaksa untuk masuk. Mereka datang dengan membawa makanan sendiri.

Malam harinya, pukul 21.30, ancaman S.Tikno itu ternyata benar. Polresta Jogja melakukan penggerebekan terhadap restaurant tersebut. Dari penggerebekan. Polisi pun mengamankan lima botol bir berbagai merek.

“Kami sudah melaporkan hal ini ke Irwasum Mabes Poldi, Kadiv Humas Mabes Polri, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Metro Jaya, Ketua Bhayangkari Polda Metro Jaya, dan Dirpropam Polda DIJ,” paparnya.

Kronologis awal terjadi pada Selasa (16/2) pukul 15.30. Tiga orang polisi bernama S.Tikno mendatangi restaurant tersebut. Ia datang untuk meminta izin menggunakan restorant Rabu (17/2) pukul 09.00. Isteri pejabat polisi dari Polda Metro Jaya yang berjumlah 90 orang akan berfoto di salah satu studia dekat Tugu.

“Tapi, karena pagi petugas tidak bisa menerima reservasi. Juga pemberitahuan yang mendadak tidak ada waktu untuk persiapan buka lebih awal,” kata Petrus.

Ia melanjutkan, meski menolak, polisi yang bernama S.Tikno tetap memaksa. Bahkan, ia sempat mengancam tak akan bertanggung jawab jika ada razia dari polisi dan ormas. Bapak S.Tikno ini datang sampai dua kali dan tetap memaksa.

“Kedatangan yang terakhir bersama dengan Bapak Sigit yang katanya atasan Bapak S.Tikno kalau tidak ikut bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa,” jelasnya.