BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
MANDIRI: Fitrianto melipat kertas bungkus keripik pare yang dilabeli Peye’Kita di rumahnya, kemarin.

Belajar Semangat dari Fitrianto

Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi sosok yang mandiri. Fitrianto membuktikan diri punya motivasi untuk berkarya dan tak mau kalah dengan yang normal. Apa yang dia lakukan?
BUDI AGUNG, Purworejo

Delapan tahun silam menjadi kenangan terburuk bagi Fitrianto. Pria berusia 38 tahun warga Kaliharjo, Kaligesing ini seolah sudah tak punya harapan lagi masa depannya. Harapan hidupnya menipis usai terjatuh dari papan reklame setinggi enam meter di kawasan Kalibanteng Kota Semarang.

Karena sengatan listrik, tubuhnya terpental dan terjun bebas ke tanah. Tubuhnya terbakar dan saraf tulang ekornya terjepit. Kondisi itu berakibat matinya gerak batas perut hingga ujung kakinya.

Akibat selanjutnya, hari-harinya hanya dihabiskan di atas tempat tidur. Berbagai pengobatan baik medis maupun alternatif telah dilakoni. Harapannya tentu bisa mendapatkan kesembuhan dan bisa menjalani rutinitas harian seperti semula. “Tapi tidak banyak perubahan yang terjadi,” ujarnya.

Beruntung, orang-orang di sekelilingnya memberikan support. Dan memberikan motivasi dan keyakinan kalau dirinya akan tetap bisa berkarya walaupun dengan bantuan orang lain. Pelan namun pasti, dia mulai bangkit dari tempat tidur dan melakukan aktivitas menggunakan kursi roda.

Nah, Fitrianto beruntung memiliki bakat menggambar sejak kecil. Dan itu menjadi modalnya untuk mengembangkan diri. Dukungan keberadaan komputer menjadikannya lebih mudah berkreasi. Sedikit pengetahuan tentang pemrograman desain grafis semakin dipelajarinya secara otodidak. Hasilnya beberapa gambar membuat orang tertarik dan memesan.

Ya, komputer inilah yang akhirnya menjadi temannya sehari-hari. Ternyata banyak hal yang bisa dia peroleh dari situ. Dan kesenangannya sejak kecil bisa didapat. “Alhamdulillah, dari sekadar iseng dan mengunggah gambar garapan ke media sosial, membuat orang tertarik dan mengorder ke saya,” katanya.

Beruntung, Fitrianto juga memiliki seorang ibu yang setia membantunya. Ibunya inilah yang selalu memberikan dukungan dan motivasi lebih dalam beraktivitas dan berkarya.

Dua tahun terakhir, Fitrianto dikenalkan dengan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kaligesing yang menghubungkannya dengan Bidang Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Purworejo. Tidak berselang lama dia mendapat bantuan kursi roda dan bantuan alat kerja berupa printer.

Kedua alat itu semakin memacu produktivitasnya dan berujung pada kemunculan aneka makanan olahan darinya. Satu yang populer dari tangannya adalah keripik pare yang dilabeli “Peye’kita”.

Produknya semakin berkembang setelah mendapatkan pendampingan dari Disable People Organization (DPO). “Produk ini banyak dibantu ibu saya, karena saya tidak mungkin ke dapur. Saya konsentrasi pada kemasan agar tampilannya lebih menjual,” katanya.

Masih berkutat pada pemasaran sekitar, produknya cepat dikenal. Kesukaannya menghabiskan waktu dengan internet, dimanfaatkan untuk mengunduh berbagai keunggulan pare dan dicantumkan dalam label produknya. “Dari sini saya sudah punya hasil walau tidak seberapa. Tapi sudah cukup untuk seorang difabel seperti saya,” imbuhnya.

Satu harapan dalam benaknya saat ini adalah sentuhan dari berbagai pihak agar produknya bisa ikut terpajang di berbagai pameran. “Kalau pemerintah mengakui dan membawa produk kami, akan sangat membantu pemasaran. Lebih baik lagi kalau produk-produk kami menjadi souvenir kalau ada kunjungan pemerintah,” harapnya.

Tentu dia tidak ingin hanya produknya saja yang diperhatikan. Dia juga menginginkan produk-produk para difabel lain diakomodasi.(din/ong)