BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
ALAT BARU: Bupati Purworejo Agus Bastian mencoba alat pertanian saat panen raya demplot padi Kodim 0708 Purworejo di Purwodadi. Panen raya ini dikelola Kelompok Tani Tekat Manunggal.
PURWOREJO-Masalah pengairan menjadi kendala utama upaya peningkatan produksi padi di wilayah selatan Purworejo. Di wilayah ini banyak saluran irigasi yang kurang memadai. Sehingga, mendesak untuk dilakukan perbaikan dan penambahan.

“Tanaman padi sangat tergantung pada air. Melihat kondisi di lapangan, perlu ada revitalisasi jaringan irigasi. Sehingga kebutuhan air bisa tercukupi,” kata Bupati Purworejo Agus Bastian saat panen raya demplot padi Kodim 0708 Purworejo di wilayah Koramil XIV Purwodadi Selasa (8/3) lalu.

Menurut Agus, dukungan ketersediaan dan kelancaran air ini krusial. Sebab, Purworejo merupakan daerah pertanian dan menjadi salah satu wilayah lumbung padi di Jawa Tengah. Selain untuk kebutuhan sawah, air juga dibutuhkan untuk pengembangan jenis tanaman lain termasuk palawija dan perkebunan. “Dengan jaringan irigasi yang baik, pertanian akan semakin berkembang. Bahkan sangat mungkin panen padi tiga kali setahun,” jelasnya.

Komandan Kodim Purworejo Letkol CZI Tommy Arief Susanto mengatakan panen raya padi ini mendapatkan hasil 7,68 ton per hektare gabah kering panen. Angka itu mengalami kenaikan jika dibanding musim panen sebelum dilakukan pendampingan.

“TNI berusaha mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Yakni dengan melakukan pendampingan petani agar produktivitas padinya meningkat,” kata Tommy.

Sebelumnya, keinginan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar Bulog menyerap gabah hasil panen petani sulit diwujudkan di Purworejo. Proses panjang guna mendapatkan kualitas sesuai kualifikasi, menjadi faktor utama penyebabnya.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan, Kelautan dan Perikanan Purworejo, Dri Sumarno menjelaskan, beberapa aspek kualifikasi seperti kadar air dan tingkat kekeringan akan memakan waktu panjang. Sebab, usai panen petani harus menjemur beberapa hari. Kondisi semakin sulit jika terganggu hujan. Akibatnya, mereka memilih menjual langsung kepada tengkulak saat panen. Bahkan menggunakan sistem tebas sebelum panen. “Kami tidak bisa memaksa karena petani juga butuh dana segar untuk berbagai keperluan,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini hanya sebatas melakukan pendampingan dan memberikan contoh yang benar mengenai pengembangan padi. Berbagai program pemerintah yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. “Di beberapa tempat, kami mengembangan padi jenis SRI dan jajar legowo dengan sistem organik. Dengan sistem itu, produksi bisa meningkat antara 2-3 ton per hektare. Jika sebelumnya sekitar 5,5 ton, sekarang bisa 7 ton. Bahkan lebih,” katanya.

Disinggung mengenai target panen gabah di tahun 2016, Dri mengatakan tidak berubah dibanding tahun sebelumnya yakni 350.000 gabah kering. Angka tersebut biasanya akan terlewati dan surplusnya bisa mencapai 100.000-125.000 ton. “Kenapa tidak dinaikkan. Karena kami realistis melihat di lapangan. Dari waktu ke waktu lahan pertanian itu menurun,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi pekerjaan tugas yang cukup berat. Yakni bagaimana bisa meningkatkan produksi di tengah semakin berkurangnya lahan. Luas lahan sawah di Purworejo berkisar 50.000 hektare. (cr2/din/ong)