JOGJA – Jika Gerhana Matahari Total (GMT) tahun 1983, pemerintah melarang warga keluar rumah, untuk tahun ini sebaliknya. Pemahaman yang sudah lebih nalar membuat pemerintah justru memfasilitasi masyarakat. Seperti di Tugu Jogja, puluhan masyarakat tumplek blek demi melihat fenomena semesta itu.

Diawali dengan salat gerhana, puluhan ribu orang membaur jadi satu. Bahkan, warga yang menyaksikan fenomena alam ini mengular sampai Jembatan Gondolayu. Tak hanya anak muda, juga orang tua. Semuanya. Mereka bersyukur kebesaran Sang Pencipta yang menutup cahaya matahari dengan sekejap.

Salah seorang warga, Nurahma, 77, mengaku berniat datang ke Tugu hanya untuk menyaksikan gerhana matahari. Meski harus berdesak-desakan dengan ribuan orang lain. Apalagi, saat gerhana matahari total 33 tahun silam, dia tak bisa menyaksikan lantaran adanya larangan keluar rumah.

“Saya memang berniat seratus persen untuk datang ke Tugu. Mungkin ini terakhir kali saya bisa melihat gerhana matahari,” katanya, kemarin (9/3).

Kepala Kantor Taman Pintar Yunianto Dwisutono menegaskan, gerhana matahari merupakan fenomena langka. Tak setiap generasi bisa menyaksikan gerhana matahari. Juga, penduduk di belahan bumi berbeda banyak yang tak menemui gerhana matahari.

“Warga mulai datang ke Tugu sekitar pukul 05.30. Karena mereka tidak ingin melewatkan peristiwa langka ini,” katanya.

Dia menuturkan, untuk pengamatan GMT, Taman Pintar bekerja sama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta komunitas Penjelajah Langit sengaja membuka untuk umum. Makanya, dalam kegiatan tersebut, penyelenggara menyediakan berbagai peralatan. Mulai dari enam teleskop, sejumlah televisi layar lebar, dan 30 petugas yang membawa kacamata khusus untuk melihat proses terjadinya gerhana.

Petugas juga rutin berkeliling di tengah-tengah warga yang “menyemut” di sekeliling Tugu. Petugas meminjamkan kacamata itu kepada warga yang akan menyaksikan. Hanya, peminjaman berdurasi 60 detik hingga dua menit. Sedangkan warga lain yang tak sempat meminjam kacamata khusus gerhana matahari bisa melihat di layar lebar.

“Kami berharap, kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa gerhana matahari bukan peristiwa yang dipenuhi oleh mitos. Tetapi ada penjelasan ilmiahnya dan warga tidak perlu takut terhadap peristiwa ini,” ungkap Yunianto.

Bagi warga yang belum sempat menyaksikan peristiwa tersebut, bisa datang ke planetarium Taman Pintar untuk menyaksikan simulasi terjadinya gerhana matahari. Sebenarnya, gerhana matahari di Kota Jogja bukan gerhana matahari total. Sebab, matahari hanya tertutup sekitar 83 persen oleh bayangan bulan. Ini terjadi pada saat puncak gerhana pada pukul 07.23. Kondisi tidak terlalu gelap. Puncak gerhana berlangsung sekitar dua menit dan kondisi berangsur-angsur normal kembali.

Kepala BMKG Jogjakarta Tony Agus Wijaya mengatakan, warga patut bersyukur dengan peristiwa gerhana matahari. Sebab, meskipun tidak total, namun cuaca saat terjadi gerhana cukup cerah. “Di beberapa daerah yang mengalami gerhana matahari total, justru cuaca tidak mendukung karena hujan deras. Seperti yang terjadi di Kalimantan,” jelasnya.

Tony menyebut, peristiwa langka tersebut pantas untuk dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Tak seperti yang terjadi pada 1983, karena warga justru takut dan bersembunyi di rumah.

“Dengan perkembangan teknologi, kita bisa merayakan hari yang istimewa ini secara bersama-sama,” tandasnya.

Wali Kota Haryadi Suyuti yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap, masyarakat dapat mengambil hikmah. Sebab peristiwa itu menunjukkan kebesaran atas peristiwa Allah SWT. “Peristiwa ini adalah tontonan dan juga tuntunan. Ada pengetahuan yang akan diperoleh masyarakat, jangan lupa bersyukur atas kebesaran Allah SWT,” katanya.

Sementara itu, di wilayah Alun-alun Utara Jogja warga juga tumpah ruah. Meski Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X batal melihat langsung di Alun-Alun Utara, ratusan masyarakat tetap antusias. Mereka menanti detik-detik puncak gerhana matahari di DIJ yang dimulai sekitar pukul 07.25 WIB.‬
Para pengunjung didampingi oleh anggota Jogja Astro Club (JAC). JAC menyediakaan 50 filter dan empat unit teleskop untuk melihat gerhana. Menurut Ketua JAC Danang Dwi Saputra, pihaknya sengaja menyediakan peralatan bantu melihat gerhana matahari. Empat teleskop yang disediakan JAC menjadi antrean warga. Anggota JAC pun harus membatasi waktu melihat, karena banyaknya antrean.

Bersamaan dengan puncak gerhana matahari, Masjid Gede Kauman Jogja juga mengadakan salat gerhana berjamaah. Di luar dugaan, warga yang datang untuk salat sangat banyak. Bahkan, jamaah harus mengelar salat sunah itu di halaman luar masjid.‬
Ketua Dakwah dan Pendidikan Masjid Gede Kauman Hamid Nur Hadi mengaku, kewalahan dalam pempersiapkan salat berjamaah ini. Sebab, pihaknya tidak memprediksi jamaah yang turut salat akan meluber.‬ Hal itu dinilainya, karena kesadaran untuk menjalankan salat sunah tersebut tinggi, selain karena pemberitaan di media yang masif.

“Persiapan sebenarnya sudah kita lakukan, tapi ternyata jamaah yang datang banyak,” ungkapnya.

Hamid tak bisa memastikan jumlah jamaah yang mengikuti sholat berjamaah. Namun, diprediksi lebih dari 2.000 orang. ‬”Kalau melihat seperti ini, bisa lebih dari 2.000 umat,” jelasnya.‬
Selain di Masjid Gede Kauman, salat gerhana juga digelar di Pagelaran Keraton Jogja yang sedang menggelar semaan Alquran dalam memperingati Hadeging Nagari Ngayogyakarta. (eri/pra/ila/ong)