BANTUL – Tim SAR Pantai Parangtritis akhirnya berhasil menemukan jasad Joko Susilo kemarin (10/3). Dalam tempo kurang dari 24 jam, tubuh korban tenggelam akibat digulung ombak pada Rabu (9/3) sore ditemukan tersangkut karang di Pantai Ndog sekitar pukul 09.30. Atau di sebelah timur dari lokasi tenggelamnya korban. Saat ditemukan, kondisi tubuh wisatawan asal Butuh, Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah tersebut masih utuh, namun sudah tidak bernyawa.

“Kami langsung bisa mengenali dari kondisi tubuh dan pakaian korban yang juga utuh,” jelas Sekretaris Tim SAR Pantai Parangtritis Taufiq Faqih Usman. Identifikasi jasad korban juga berjalan cepat. Keluarga korban yang menunggu di posko SAR pun mudah mengenali jasad pemuda 25 tahun itu.

Joko Susilo disapu gelombang tinggi saat asyik mandi bersama lima rekannya. Mereka sudah diingatkan tim SAR agar tidak berenang di kawasan yang berdekatan dengan palung. Terlebih, di bibir pantai telah terpasang papan peringatan larangan mandi. Namun, mereka tak mengindahkan peringatan petugas. Nahas, saat gelombang tinggi datang, enam orang itu tergulung ombak. Lima diantaranya berhasil diselamatkan.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul Bambang Legowo menegaskan, spanduk dan papan peringatan yang terpasang di sekitar Pantai Parangtritis cukup banyak. Menurutnya, papan itu bisa mewakili keberadaan petugas rescue dan pengawas pantai. Bahkan, spanduk besar bertuliskan larangan mandi di laut sudah terpasang di sekitar pintu masuk tempat pemungutan retribusi (TPR) . “Itu berguna agar wisatawan tidak mandi di laut,” tandasnya.

Bambang mengatakan, ancaman ancaman bahaya gelombang tinggi sewaktu-waktu mengintai keselamatan wisatawan.

“Tentu saja kami menyesalkan masih ada wisatawan yang nekat mandi dan tenggelam,” ucapnya.

Bambang juga menyayangkan sikap wisatawan yang tak mengindahkan peringatan tim SAR yang mandi di dekat palung.

Bambang mengingatkan bahwa keselamatan wisatawan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Kesadaran pengunjung pantai untuk menaati peraturan mutlak diperlukan.

Terlebih, selama ini jatuhnya korban jiwa selalu akibat sikap acuh wisatawan terhadap setiap larangan.

“Kharakter pantai selatan beda dengan utara. Gelombangnya tinggi karena langsung berhubungan dengan Samudera Hindia,” paparnya.(zam/yog/ong)