Agung Budi Jatmiko/Radar Jogja
PUSARA: SBY bersama Ani Yudhoyono menabur bunga di makam Sarwo Edhie Wibowo di Kelurahan Pangen Jurutengah, Purworejo Kota, kemarin (11/3).
PURWOREJO – Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan kesan santai dalam kunjungannya ke Purworejo, kemarin sore (11/3). SBY beserta rombongan memilih berjalan kaki dari pintu gerbang gang kompleks makam Sarwo Edhie Wibowo yang berjarak sekitar 200 meter. Satu hal yang tidak pernah terjadi saat menjadi RI 1.

Cuaca mendung dan sedikit rintik hujan dibiarkan SBY dan memilih tidak menggunakan payung atau penutup kepala. SBY beserta Ani Yudhoyono berada di barisan kedua setelah rombongan Edhie Baskoro (Ibas) yang memilih mendahului bersama Agus Hermanto, salah satu petinggi Partai
Demokrat.

Wartawan dan warga tetap dibiarkan mendekat tanpa ada halauan dari pasukan pengawal. Pintu gerbang utama makam juga terus terbuka dan membebaskan siapa pun turut berada di dalam kompleks. SBY menjadi yang terakhir menuju ke pusara Sarwo Edhie Wibowo yang letaknya lebih tinggi dibandingkan makam lainnya. Begitu duduk, KH R Hakim dari Pondok Pesantren Maron Loano langsung memimpin doa.

Usai berdoa bersama, SBY minta waktu sejenak untuk berdoa khusus yang dilanjutkan dengan tabur bunga. Tidak hanya makam Sarwo Edhi Wibowo, hampir seluruh pusara yang ada di dalam kompleks menjadi sasaran taburan bunga.

“Sarwo Edhie Wibowo adalah ayah tercinta saya. Beliau tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dan meminta izin ke Presiden Soeharto waktu itu. Beliau ingin dimakamkan di sini, Purworejo, agar bisa selalu dekat dengan ibunya,” ujar Ani Yudhoyono dalam sesi dialog.

SBY sendiri mengatakan jika Sarwo Edhie Wibowo merupakan gurunya saat menempuh pendidikan kemiliteran di Magelang. “Saya AKABRI 1973 dan saat itu beliau adalah Gubernur. Banyak hal yang diberikan kepada kami dan tidak akan pernah terlupakan,” kata SBY.

Jauh sebelum meninggal, SBY pernah diajak mengunjungi lokasi makam dan diminta untuk menentukan arah secara pasti menggunakan kompas. “Dan saat beliau meninggal pada tahun 1989, malam menjelang pemakaman saya datang ke sini lebih dulu dan memastikan arah makam dengan benar.

Ternyata dari situ, beliau mengajarkan bahwa kita itu kalau memiliki arah harus benar,” tambahnya.

Satu keinginan yang belum sempat dilaksanakan Sarwo Edhi Wibowo adalah membuat buku memoar Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. “Ada tiga memoar yang dulu akan ditulis beliau tapi tidak pernah kesampaian karena keburu meninggal. Kami sudah mencoba menelusuri bahan-bahan itu dan sebagian bahan telah diselamatkan. Mudah-mudahan nanti bisa menjadi biografi
Sarwo Edhie Wibowo yang sebenar-benarnya,” kata SBY.

Ketua DPC Partai Demokrat Purworejo Yophi Prabowo yang turut menyambut kedatangan SBY mengatakan jika agenda kegiatan berubah dari jadwal semua. Keterlambatan kedatangan dari sebelumnya pukul 14.00 wib menjadi sekitar pukul 16.00 menyebakan agenda pertemuan dengan para kader Demokrat diurungkan.

“Selesai dari makam, Pak SBY akan langsung ke hotel dan malamnya baru akan dijamu oleh Bupati Purworejo di Pendopo Rumah Dinas. Jika memungkinkan akan turun ke Alun-alun Purworejo. Tapi itu situasional,” kata Yophi. (cr2/laz/ong)