MUNGKID – Kasus pencabulan yang menimpa bocah asal Desa Wonoroto, Windusari, Kabupa-ten Magelang mulai menuai simpati dari elemen masya rakat. Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena Salaman akan mener-junkan tim untuk mendampingi korban dalam pemulihan kon-disi psikologi. “Besok (hari ini) kami akan me-nemui para korban di Lereng Sum-bing,” ungkap Kasi Program dan Advokasi Sosial PSMP Antasena Agung Suhartoyo kemarin (14/3).

Agung merasa perlu secepatnya melakukan terapi psikologi agar kasus tersebut tak menimbulkan dampak berbahaya pada diri kor-ban. Jika tak segera ditangani, Agung khawatir akan muncul perasaan balas dendam. Atau lebih buruk lagi. Itu jika suatu hari korban justru bertindak seperti pelaku karena merasa adanya nuansa kenyama-nan saat melakukan tindak asu-sila (sodomi, red).Selain psikologis, PSMP akan melakukan pendampingan hu-kum. Itu mengingat korban ma-sih di bawah umur. “Untuk pe-mulihan psikologis kami turut melibatkan psikiater dari rumah sakit jiwa,” lanjutnya.

Tak hanya itu, PSMP akan mem-buat laporan sosial sebagai tindak lanjut proses hekum terhadap pelaku. Itu sesuai amanat Un-dang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Disebutkan, proses hukum terhadap tersangka harus mela-lui proses laporan sosial.Dorongan agar korban segera memperoleh pendampingan juga disampaikan Kepala Desa Wonoroto Abdul Kholik. Dia tak ingin korban hanya pulih se-cara psikologis. Tapi, sehat jas-mani dan rohaninya. “Ini untuk mencegah agar peristiwa seru-pa tak terulang,” katanya.

Kholik menuturkan bahwa para korban pencabulan juga perlu motivasi agar tidak me-rasa minder. Apalagi, di ling-kungan desa, para korban tinda-kan asusila menjadi bahan ejekan teman-teman sebaya mereka. Di sisi lain, Kholik mengimbau para orang tua yang memiliki anak seusia korban agar mengingatkan mereka untuk tidak mengejek para korban.Pada bagian lain, Kholik meni-lai pelaku pencabulan, M. Sirojul Malik,19, mengalami masalah kejiwaan. Pandangan itu berasal dari sikap tersangka yang cen-derung pendiam. Bah kan, saat berpapasan dengan orang lain, Malik tak pernah bertegur sapa.

Kholik menduga, tindakan me-nyimpang yang ditunjukkan tersangka akibat pengaruh dari lingkungan kerjanya. Hal itu di-perparah dengan kebiasaan Ma-lik mengonsumsi minuman beralkohol. “Dia pernah jadi kuli bangunan di Jakarta dan Jogjakarta. Mungkin dia terkom-taminasi oleh teman yang kela-kuanya tidak baik,” ungkapnya.Kholik berharap, proses hukum yang harus dijalani Malik bisa menjadi efek jera, sehingga mendorongnya untuk tidak mengulangi perbuatan bejatnya tersebut. Sebagaimana diketahui, Malik mengaku telah menyo-domi 15 anak di bawah umur. (ady/yog/ong)