DWI AGUS/Radar Jogja

Amano Senang Lihat Penonton Tertawa dan Ikut Mikir

Jogjakarta mendapat kehormatan melihat aksi para seniman panggung Jepang. Dikemas dalam lakon Kera Sakti oleh kelompok Ryuzanji Company dari Tokyo, pementasan ini diramu secara total menampilkan ciri khas pementasan drama panggung negeri matahari terbit itu.

DWI AGUS, Jogja
Penulis naskah yang sekaligus bertindak sebagai sutradara, Tegai Amano, menjabarkan Indonesia merupakan negara yang spesial. Itulah mengapa di Indonesia, kelompok ini pentas sebanyak empat kali. Diawali Jakarta 11 dan 12 Maret, Jogja 16 Maret, pelataran Candi Boroburur 19 Maret dan Bali 23 Maret.

“Indonesia sangat istimewa bagi kami, sehingga membuat kami bersemangat untuk pentas. Karakternya budaya yang berbeda justru menjadi tantangan bagi kami untuk pentas,” kata Amano sesuai pementasan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu malam (16/3).

Dalam pementasan ini Ryuzanji Company membuktikan wujud akulturasi. Ini terlihat dalam beberapa percakapan, para aktor menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Penggunaan bahasa Jawa dan Indonesia bertujuan menghidupkan karya Kera Sakti ini.

Kreativitas berlanjut ketika kelompok ini memasukkan adegan Anoman dan Sinta. Adegan wayang orang ini hadir di tengah-tengah pertunjukan. Menurut Amano, adegan ini menyesuaikan dengan bintang tamu yang hadir dalam pementasan.

“Unsur-unsur kebudayaan lokal sangat penting dalam pementasan kami. Kami ingin memahami budaya Indonesia dan lebih dekat dengan masyarakatnya. Adegan Anoman Sinta karena ini kesenian tradisi Jogjakarta. Biasanya kolaborasi ini kita sesuaikan dengan lokasi pertunjukan di mana kami pentas,” jelasnya.

Tentang pemilihan lakon, Amano memiliki alasan tersendiri. Cerita rakyat negeri Tiongkok ini memiliki identitas yang kuat. Tidak hanya di negara asalnya, tapi hingga negara lainnya. Bahkan di Indonesia dan Jepang, cerita rakyat ini sudah mengakar.

Untuk jalan cerita, lakon Kera Sakti ini masih berpijak pada cerita khas Tiongkok. Hanya saja mengalami penyesuaian konsep Ryuzanji Company. Seperti ragam adegan yang diulang-ulang dalam beberapa frame pertunjukan.

“Cerita ini sangat kuat dalam falsafah hidup dan agamanya. Untuk malam ini kita kemas ala humornya. Kita mengusung tema manusia dengan alur ringan dan menghibur. Saya terkejut ternyata responnya bagus. Saat humor, penonton tertawa, saat adegan serius juga ikut mikir,” ungkapnya.

Amano membeberkan konsep pementasan ini tidaklah mudah. Bahkan kelompok ini sempat menghilang, karena konsep ide yang belum tergambar. Hingga akhirnya konsep ini diusung dan membutuhkan waktu satu bulan untuk penyesuaian.

Indonesia pun menjadi negara pembuka pentas mereka di Asia. Sebagai wujud keseriusan, setiap naskah diterjemahkan. Naskah terjemahan ini terlihat sebagai latar belakang selama pementasan berlangsung.

“Untuk pemain total melibatkan 12 orang, baik dari Ryuzanji Company ataupun artis kolaborasi. Rata-rata pemain berusia 40 tahun, tapi tetap memiliki semangat yang tinggi,” ungkapnya. (laz/ong)