SLEMAN – Baru Jumat (18/3) lalu digegerkan berita bunuh diri siswa SMA dengan pistol. Minggu (20/3) kemarin warga Pringgolayan RT 01 RW 26 Pringgolayan, Condongcatur, Depok kembali digemparkan dengan kejadian serupa dengan cara berbeda.

Korban atas nama Sri Jatmiko, seorang karyawan hotel. Bapak dua anak itu ditemukan tewas dalam posisi tergantung di pintu kamar dengan menggunakan tali tas kain warna hitam, Minggu sekitar pukul 09.00 WIB.

Kapolsek Depok Timur Kompol Dhanang Bagus Anggara mengatakan, saat ditemukan korban menggunakan kaos hitam bagian depan bertuliskan New York dan menggunakan celana jean warna biru, posisi menghadap ke barat daya.

Dijelaskan, yang pertama menemukan adalah ibu korban. Saksi mendatangi rumah korban untuk menengok cucunya, namun setelah sampai di rumah korban pintu rumah bagian depan dalam keadaan tertutup dan terkunci.

“Kemudian saksi masuk melalui pintu belakang, setelah masuk rumah ternyata mendapati korban dalam keadaan tak bernyawa. Menurut keterangan yang diperoleh, sebelumnya korban sempat cekcok dengan istrinya,” terangnya kepada Radar Jogja.

Seusai olah tempat kejadian perkara (TKP), jenazah korban langsung dievakuasi ke RSUP dr Sardjito guna kepentingan forensik.

Sementara itu, terkait kasus dugaan bunuh diri siswa SMA, Martinus Jevelin, saat ini masih terus dilakukan pendalaman. Penyidik mengirimkan barang bukti yang diduga dipakai untuk bunuh diri berupa senjata api berjenis Glock 19 ke laboratorium forensik Mabes Polri Semarang. Pistol itu sebelumnya ditemukan tergeletak di dekat korban. Dhanang mengatakan, pengiriman barang bukti tersebut untuk keperluan penyidikan.

Sebelumnya, Sosiolog Kriminalitas dari UGM Soeprapto mengatakan, dari aspek sosiologis, seseorang yang melakukan bunuh diri karena korban merasa dalam menyelesaikan persoalannya sendirian. Tidak memiliki interaksi dengan pihak lain yang dinilai dapat meringankan bebannya.

“Karena saat ini interkasi sosial fisik menipis, seseorang yang mempunyai masalah jadi merasa sendirian. Tidak mampu mengatasi, larinya bunuh diri,” tandasnya.

Perlu digaris bawahi, mengakhiri hidup dengan cara apapun bukanlah solusi. Masih ada cara lain dalam menyelesaikan sebuah persoalan hidup.

Korem Perketat Penggunaan Senjata Api

Munculnya banyak kasus bunuh dengan senjata api, baik yang melibatkan aparat maupun warga sipil, menjadi perhatian Korem 072 Pamungkas Jogjakarta. Menghindari peristiwa serupa terjadi di wilayahnya, Korem memperketat penggunaan senjata api oleh anggotanya.

Komandan Korem 072 Pamungkas Brigjen TNI Stephanus Tri Mulyono mengatakan, pengetatan pemberian izin penggunaan senjata api dilakukan untuk menghindari kemungkinan terburuk. Dia tidak ingin ada anggotanya yang berbuat nekat dengan senjata api yang dibawanya.

“Kami perketat izin penggunaannya untuk menghindari kemungkinan disalahgunakan. Kami juga instruksikan seluruh anggota yang membawa senjata, agar dijauhkan dari anak-anak,” katanya usai kegiatan jalan sehat, Minggu (20/3) pagi.

Danrem menjelaskan, sebenarnya penggunaan senjata api di lingkungan Korem Pamungkas sudah melalui pengawasan yang cukup ketat. Bahkan untuk mengambil senjata di gudang harus melewati tiga tahap karena kunci gudang dipegang tiga orang. Mulai komandan, pejabat kurir, dan pejabat logistik.

Selain itu, dilakukan pemeriksaan rutin setiap seminggu sekali. Sehingga kondisi senjata tetap terpantau termasuk jumlahnya yang tersimpan di gudang. “Setiap Senin kita periksa senjata di gudang, kemudian sebulan sekali kita laporkan ke komando atas,” terangnya. (riz/ila/ong)