DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
SEMANGAT: Tim Polo Air DIJ saat berlatih untuk persiapan PON di Kolam Depok Sport Center baru-baru ini.

Patungan Sewa Kolam Demi Cetak Prestasi untuk Jogjakarta

Tim Polo Air DIJ membuktikan kualitasnya di skala nasional. Jauh dari kata unggulan, bahkan tidak diprediksi lolos, Tim Polo Air DIJ justru memberikan kejutan manis. Mereka berhasil menyabet tiket lolos ke PON 2016 Jawa Barat.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
SUDAH sejak Januari, seperti cabang olahraga DIJ lainnya yang lolos PON, Tim Polo Air sudah memulai program Pelatihan Pemusatan Daerah (Puslatda). Dua tim putra dan putri menyandang predikat yang berbeda. Tim Putri masuk Puslatda Reguler karena lolos Pra PON dan masuk kriteria KONI DIJ di peringkat empat nasional. Sedangkan Tim Putra tergelincir dan hanya berada di posisi lima nasional dan harus menjalani Puslatda Mandiri.

Tetapi, bagi Tim Polo Air, predikat reguler dan mandiri hanyalah status formalitas semata. Tim putra dan putri tetap mendapatkan porsi pelatihan yang sama. Begitulah komitmen yang dibangun Tim Polo Air DIJ, yang sejak 2010 lalu mulai dikembangkan dan melakukan pembinaan.

“Bagi kami, status mereka yang reguler dan mandiri sama saja. Karena kami membentuk tim itu susah dan senang ya sama-sama. Ini yang lolos dua-duanya, ya kita kerja keras bersama,” ujar salah satu pelatih Polo Air DIJ Arief Bakri Suryo di sela-sela sesi latihan di Kolam Depok Sport Center baru-baru ini.

Kerja keras Tim Polo Air DIJ untuk bisa menembus Kejurnas Pra PON merupakan sebuah pencapaian yang mengejutkan setelah lima tahun terbentuk. Bukan waktu yang singkat untuk menghasilkan atlet yang berkualitas dan mampu memiliki daya tanding dengan atlet-atlet potensial daerah lainnya. Sebab, seorang atlet polo air harus memiliki kombinasi kemampuan, yakni berenang dan permainan bola tangan.

“Dan itu nggak ringan, belum tentu yang bisa renang, bisa main polo air. Tapi anak polo air bisa renang, bisa basket juga. Selain harus mumpuni secara individu, seorang atlet polo air harus bisa membangun kekompakan dengan tim,” ungkap Arief.

Selama persiapan yang sudah berjalan sejak Januari lalu, pelatih fisik ini mengungkapkan, program latihan fisik baik di darat maupun air sudah dijalani dengan baik. “Sementara ini sih kami rasa sudah cukup, tapi memang sejak Februari justru kami terpaksa harus mengurangi jam latihan teknik di air,” ujarnya.

Pengurangan jam ini bukannya tanpa sebab. Itu lantaran terbentur biaya sewa kolam yang harus ditanggung sendiri oleh masing-masing atlet. Ya, untuk Puslatda PON ini Tim Polo Air terpaksa mengurangi durasi latihan, dari yang tiga minggu menjadi dua minggu sekali. Keputusan ini memang berat, namun terpaksa harus dipilih. Selebihnya, waktu yang ada digunakan untuk latihan di darat.

Tim Polo Air memang sejak awal tidak mendapat subsidi untuk sewa kolam dari manapun. Para atlet sendirilah yang dengan sukarela patungan setiap bulannya Rp 150 ribu untuk bisa menjalani latihan sesuai dengan jadwal.

“Beratnya lagi bagi tim putra yang harus mengeluarkan biaya masing-masing Rp 6,6 juta untuk bisa berangkat ke PON. Sedangkan yang putri sudah lumayan ayem karena semua dibiayai KONI DIJ,” ujarnya.

Arief mengakui, penghitungan biaya yang mencapai Rp 13 jutaan per orang untuk berangkat ke PON memang terbilang mahal. Sebab, saat Kejurnas Pra PON lalu, Tim Polo Air total hanya mengeluarkan biaya Rp 40 juta. Dana itu sudah cukup membiayai dua tim, putra dan putri.

“Saat ke Kejurnas saja tidak sebanyak itu, lebih baik kami langsung berangkat dan ketemu di sana saja. Kalau bisa begitu, anak-anak hanya perlu iuran Rp 1 juta bisa langsung berangkat. Tidak usah pusing memikirkan iuran Rp 6,6 juta,” paparnya.

Tim Polo Air, baik putra dan putri menyiapkan masing-masing 13 atlet yang nantinya akan didaftarkan dalam entry by name. Peluang medali emas, menurutnya, justru ada di tim putra, meski tim berat seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat harus diperhitungkan. Sedangkan tim putri, masih memiliki peluang untuk bisa mencuri medali perak ataupun perunggu. Karena dari segi kualitas, lawan-lawan yang harus dihadapi lebih berat.

“Sejauh ini kami hanya kurang melatih mental, karena saat bertanding di Kejurnas Pra PON kemarin saja kita masih lemah di mental. Mendengar nama-nama besar seperti DKI Jakarta dan daerah lain yang kuat, nyali anak-anak sudah turun duluan. Harapannya, jelang pertandingan, kami bisa tanding uji coba,” ujarnya. (ila/ong)