JOGJA – Langkah Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk maju pilkada dari jalur perseorangan, menginspirasi sampai ke Kota Jogja. Setelah sebelumnya Jogja Independent (Joint) mendeklarasikan diri akhir pekan lalu, gerakan tersebut mulai menerima sejumlah nama untuk diseleksi dan maju dalam Pilkada Serentak 2017 mendatang.

Menurut Tim Komunikasi Joint, M Arief Budiman, pihaknya menutup pendaftaran calon independen hingga 30 Maret mendatang. Selanjutnya, nama-nama yang sudah mendaftar akan dilakukan verifikasi dan diseleksi.

“Nama yang lolos verifikasi administrasi nantinya akan diperkenalkan ke publik untuk kemudian dilakukan konvensi dan presentasi. Pada 15-20 April direncanakan memiliki calon definitif dari joint,” katanya, kemarin.

Ada dua orang yang lebih dulu mendaftar ke joint, yakni pengusaha Martha Henry Agt dan konsultan pendamping UMKM Rommy Heryanto. Tak berselang lama, langkah dua orang tersebut diikuti Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga Siti Ruhaini Dzuhayatin. Juga peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Jogja Titok Hariyanto. Ruhaini dan Titok resmi mendaftar menjadi bakal calon independen untuk posisi wali kota melalui joint di Kedai Kebun, Tirtodipuran, Kota Jogja, Jumat (25/3).

Ditanyakan mengenai motivasinya mendaftar, Ruhaini mengaku gerah dengan kondisi para pelaku politik di Indonesia. Sebab sejak bergabung sekolah demokrasi yang pesertanya anggota partai politik, belum ada diantara mereka yang bisa memberikan dampak perubahan para perilaku politisi.

“Saya ingin parpol bisa berbenah dan akuntabel. Proses-proses yang kita lakukan dengan hati nurani ternyata belum bisa mengubah dan sulitnya luar biasa. Karena itulah saya berniat maju menjadi calon Wali Kota Jogja dari jalur independen melalui joint,” tuturnya
.

Sementara Titok Hariyanto mengaku memiliki motivasi maju karena ingin melakukan perbaikan terhadap pembangunan di Kota Jogja. Dikemukakan, ketika berbincang dengan rekan dari dalam maupun luar kota, masalah Jogja banyak disinggung. Yaitu kondisi jalan yang semakin macet hingga bangunan lama yang hilang dan digantikan bangunan baru menjadi topik keluhan.

“Di sisi lain terjadi pertumbuhan bangunan hotel yang luar biasa. Ada persoalan serius yang tak direspon, dari lingkungan sampai minimnya ruang terbuka hijau. Masyarakat perlu dilibatkan dalam mengambil kebijakan,” tandas Titok, komisioner KPU Kota Jogja periode 2008-2013. (riz/dem/ong)