JOGJA – Tahun ini Sekolah Menengah Atas (SMA) menyelenggarakan kali pertama Ujian Nasional Berbasis Kom-puter (UNBK). Berbeda de ngan Sekolah Me-nengah Kejujuran (SMK) yang telah melaksanakan tahun kedua. UNBK perdana di tingkat SMA ini pun masih menyisakan beberapa masalah.Hal ini terlihat ketika Geladi Bersih UNBK 2016 yang digelar di SMAN 1 Jogja, Kamis (24/3). Beberapa permasalahan muncul ketika para siswa menjajal metode baru ini. Mulai dari log out sendiri, pilihan ja-waban tidak bisa dipilih, hingga memilih jawaban sendiri. “Tadi waktu geladi bersih beberapa teman mengalami masalah. Ada yang kejawab sen-diri, sampai log out meski tidak diklik
Untung ada proktor yang lang-sung memperbaiki. Pindah komputer yang tidak error,” kata siswi kelas XII SMAN 1 Jogja Adhaninggar Hapsari (17).Meski begitu, rata-rata semua siswa mengaku lebih nyaman menggunakan UNBK. Selain lebih efektif dan efisien, ruang mengerjakan soal jauh lebih nyaman. Pasalnya, setiap siswa mengerjakan di laboratorium yang fasilitasnya berbeda dengan kelas biasa.Siswa lainnya, Muhammad Harza Arbaha menilai UNBK jauh lebih cepat dibandingan Paper Based Test (PBT). Mulai dari mengisi data diri yang tidak memakan waktu, hingga proses pengerjaan yang lebih mudah dibandingkan PBT. “Kalau PBT saat mengisi data pribadi sudah memakan waktu yang tidak sebentar. Lalu untuk ujian listening Bahasa Inggris lebih enak karena pakai headset. Suara yang ditangkap lebih fokus dan terdengar. Berharap besok lancar dan tidak eror, baik kom-puter atau sistemnya,” harapnya.Wakil Kepala SMAN 1 Jogja Bidang Kurikulum Asrori men-jelaskan, geladi bersih ini seka-ligus mengecek perangkat komputer sekolah. Menurutnya, kesehatan komputer sangat pen-ting agar anak nyaman dan fokus selama mengerjakan soal UNBK.Evaluasi juga akan diterapkan kala geladi bersih UNBK 2016 ini berakhir 28 Maret. Mulai dari perbaikan jaringan, hardware komputer dan fasilitas penunjang lainnya. Evaluasi ini selain internal juga akan dikirimkan ke panitia pusat di Jakarta sebagai bahan rujukan. “Memang sempat error saat simulasi pertama dan kedua. Kita lihat di geladi bersih ini berapa tingkat error-nya agar segera kita evaluasi. Ada 297 siswa yng ikut UNBK, kita se-diakan tiga laboratorium kom-puter dan ujiannya terbagi tiga gelombang,” jelasnya.Saat disinggung kesiapan listrik, Asrori telah mengirimkan surat ke PLN. Tentang tenaga cadangan berupa genset, masih dalam pertimbangan. Pasalnya, selama simulasi berjalan tidak ada kendala dalam suplai tenaga listrik. “Belum ada inisiatif sampai menyewa atau membeli genset. Kita tunggu evaluasi setelah geladi bersih selesai. Jika memang di-perlukan, maka kita akan pe-ngadaan genset,” imbuhnya.Kendala ternyata juga ditemui di SMAN 3 Jogja selama simulasi berlangsung. Proktor SMAN 3 Jogja Rudi Hartanto menjelaskan, permasalahan utama pada server pusat. Terutama saat semua sekolah peserta UNBK 2016 melakukan sinkroniasi secara serentak.Menurutnya, jumlah peserta UNBK 2016 saat ini meningkat hingga 800 persen. Sehingga ini menjadi kendala bagi setiap sekolah jika dalam waktu ber-samaan. Ia pun menyarankan agar ke depan setiap daerah memiliki server regional sebelum dikirim ke server pusat. “Kendala lain komputer dengan Windows 10 sering log out sendiri, ini perlu dievaluasi. Untuk mengantisipasi macet, mungkin bisa dengan server regional dahulu. Untuk UNBK, SMAN 3 Jogja menyiapkan dua labora-torium komputer untuk 220 siswa yang ujian. Terbagi men-jadi tiga sesi, setiap laboratorium 43 komputer plus cadangan,” jelasnya. (dwi/laz/ong)